Pencerahan itu bernama CTPS

CTPS BC Nov 2017

Penulis: Bangun Rohmadi

Selama 6 tahun menjadi guru, tentu banyak sekali hal yang kami lakukan. Berperan sebagai sebagai pendidik, pengajar, membina peserta didik dan lain – lain. Memang kami sadari, semua fungsi tersebut sangat melekat pada kami, sehingga tujuan pendidikan yang diharapkan dapat terlaksana. Semua itu kami lakukan fullday disekolah.

Ketika kami mendidik dan membina siswa, maka perspektif yang kami bangun adalah mengelola bagaimana siswa memiliki arah dalam bersikap, berbuat, mengetahui kewajibannya, merasa bertanggung jawab akan tugasnya, mengelola cara berinteraksi dan lain sebagainya. Maka peran kami lakukan secara penuh 24 jam, tentu kami tidak sendiri. Semua elemen terlibat, baik itu guru, karyawan, pimpinan sekolah dan juga orang tua serta teman – teman sepergaulannya. Disinilah fungsi pendidikan yang akan membentuk karakter secara utuh. Meskipun demikian, ada peran yang juga penting yaitu mengajar siswa.

Ketika berperan sebagai pengajar, seringkali yang menjadi target adalah materi. Untuk melaksanakan hal ini maka skema yang dilakukan adalah guru menyusun perangkat berupa prota, promes, silabus, KKM, dan juga RPP. Semua itu adalah komponen  yang akan digunakan untuk mengajar. Pertanyaannya, apakah selama ini kita betul – betul memanfaatkan rencana tersebut sebagai panduan untuk mengajar? Sejujurnya sebagai guru, perangkat pembelajaran tersebut memang kami buat, namun  belum mampu kami optimalkan. Apakah pengalaman ini hanya saya saja atau terjadi banyak diluar sana, wallahu a’lam bishowab. Mudah – mudahan tidak terjadi.

Selama ini dalam mengajar seperti ‘menyuapi’ anak – anak kita. Bahkan cara ‘menyuapinyapun’ dengan cara – cara yang langsung, kalau kami ibaratkan meminta anak – anak memakan apa yang telah Bapak/Ibu guru sajikan. Entah bagaimana kondisi anak, yang penting harus dimakan. Inilah kegalauan kami sebagai seorang guru dalam mengajar. Karena ketika orientasi kami bangun seperti itu, biasanya yang terjadi kurang efektif dalam mentransfer standar keilmuan yang kami miliki, atau bahkan orientasinya kepada nilai saja, tanpa mempertimbangkan kemampuan pribadi ataupun kemampuan berfikir anak – anak. Naluri kami berkata,  kondisi ini harus kami ubah, bagaimanapun caranya.

Disaat itulah, kami diundang (setelah melalui proses) oleh British Council untuk mengikuti pelatihan. Dua kali ini kami datang  ke Jakarta. Yang pertama kami mendapatkan pengalaman baru tentang konsep Core Skills. Tiga hari kami dikenalkan konsep – konsep pembelajaran yang menjawab tantangan abad 21, namun sekali lagi ini baru Intro. Dan undangan yang kedua kami melakukan pendalaman diantara turunan dari Core Skill, yaitu CTPS (Critical Thinking and Problem Solving). Walalupun jauh – jauh ke Jakarta, bismillah kami ikuti. Ternyata ada yang masih jauh dari kami, yaitu Ibu Latifah Pisak dari padalaman NTB. Proses yang kami lalui bersama para guru – guru (yang rata – rata se-Jabodetabek) betul – betul membuat kami ‘merasa’ menjadi guru yang sesungguhnya.

Core skill memiliki 6 turunan, yaitu Critical Thinking and Problem Solving, Collaboration and Communication, Creativity and Imagination, Citizenship, Digital Literacy, Student Leadership and Personal Development. Kami menyadari, konsep ini adalah konsep istimewa diantara konsep – konsep yang lain. Tentu saja masing – masing punya kelebihan dan kekurangan, namun setidaknya konsep ini telah dilakukan di beberapa tempat di berbagai negara. Core skills adalah standar kualitas, sebagai alat dalam mempertajam guru serta mempermudah guru dalam melakukan pengajaran.

Tiga hari terakhir ini betul betul kami dituntut bukan hanya mendengarkan, tapi mengalami langsung bagaimana mengelola kelas. Kuncinya adalah CTPS (Critical Thinking and Problem Solving). Disini guru tidak boleh menyuapi langsung, tapi menstimulus siswa. Siswa harus berperan dalam pembelajaran (Student-centered). Konsep ini menguatkan kami dalam menyampaikan materi secara mendalam (deep learning). Jadi apa yang kita ajarkan harus benar – benar memaksa siswa bergerak dan berfikir.

Konsep pertama CTPS adalah Considering Different Perspectives. Untuk menyajikan materi, guru harus menyiapkan sebuah alur melalui lesson plan yang bisa memancing siswa untuk berfikir. Baik melalui teks, gambar, video dan lain – lain. Konsep ini tidak merubah materi, namun mengajak anak untuk berfikir, baik secara kelompok maupun berpasangan berdasarkan media pembelajaran tersebut. Mereka mengkaji, menganalisis topik pembelajaran yang disampaikan guru, dengan cara menjawab pertanyaan yang disampaikan guru melalui 4 model pertanyaan, yaitu open question, closed question, surface question dan deep question.

Setelah mampu menjawab pertanyaan – pertanyaan dari guru, maka pelan – pelan siswa diajarkan tentang konsep Assessing Evidence (penilaian berupa bukti). Disinilah letak penguat selanjutnya. Sejak dini, kemampuan menyampaikan bukti/data harus terlatih, bukan sekedar asumsi, isu ataupun sumber yang tidak jelas. Kaitan dari ini semua adalah terhubung dengan kemampuan literasi siswa. Dalam konsep pengajaran, guru dapat membuat sebuah skema pengajaran melalui proses pembagian siswa kedalam kelompok, kemudian distimulus untuk merumuskan jawabannya. Setelah itu guru mengkonfirmasikan, apakah pendapat siswa masuk kategori  fakta atau opini. Kemudian kita meminta siswa lain untuk memilih adakah yang setuju atau tidak (pro & kontra). Tentu saja hal ini tidak akan selesai pada satu atau dua kali pertemuan, setidaknya semakin dilatih, siswa akan bisa menemukan konsepnya. Dan guru lebih memahami pendapat siswa dan mengoreksinya.

Hal lain yang juga diterapkan kedalam CTPS adalah Non-Routine Problems (Masalah – masalah yang tidak biasa terjadi). Artinya terkadang guru harus menampilkan sesuatu yang berbeda dari biasanya dalam menyajikan materinya. Hal ini adalah menjadi bagian dalam merefleksikan kondisi masyarakat hari ini, dimana sudah menjadi tuntutan bahwa kondisi dunia akan berubah (perubahan offline menjadi online). Apapun yang dilakukan masyarakat tanpa menyertakan perubahan melalui inovasi – inovasi maka akan tergerus dan mengalami penurunan. Maka, menjadi guru dituntut juga untuk melakukan hal yang tidak biasa ketika mengajar. Dorongan untuk melakukan aktivitas ini agar membiasakan siswa berfikir analisis dan antisipasif kelak. Untuk mencapai hal yang demikian, guru dapat melakukan variasi metodologi, diantaranya kolaborasi, yang melibatkan berbagai elemen, baik itu internal sekolah (guru, karyawan, siswa, orang tua) ataupun eksternal sekolah (instansi pemerintah, lembaga pendidikan, perusahaan, lingkungan masyarakat, organisasi sosial, dan yang lainnya) yang terkoneksi dengan mata pelajaran yang diampu guru. Model dan cara bisa disesuaikan, yang penting tujuan pembelajaran dapat terlaksana, hanya pelaksanannya diperluas yang melibatkan banyak pihak.  Guru adalah bagian terpenting  agent of change, maka semua itu bisa dimulai dari dalam kelas.

Jakarta, 25 Nop 2017

*Diambil atas seijin penulis.

@mhsantosa

Circle me @ +Made Hery Santosa

©mhsantosa (2017)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: