Mencari Para Pembuat Janji Tepati Janji

jagalah-komitmen

Tim sedang ikut program pertukaran pelajar di Indonesia, tepatnya Bali. Ia sudah tahu banyak tentang wilayah ini dari membaca dan menonton YouTube sebelumnya. Bali yang indah, yang eksotis, yang ramah, yang santun, yang religius, yang… lain-lainnya. Ia kemudian memutuskan ke desa-desa, bukan ke tempat ramai, seperti Kuta yang banyak dikunjungi orang-orang luar. Baginya, perjalanan menyepi semacam perjalanan memahami diri dan mencari nilai kehidupan sejati. Ia bertemu banyak kawan kemudian yang memberinya pengalaman-pengalaman menarik.

Salah satu pengalaman menarik yang ia dapatkan adalah bagaimana orang-orang cepat sekali berjanji namun belum tentu menepatinya. Ketika ia berbicara, tampak banyak orang tersenyum, namun ternyata senyum itu tidak sama. Tampak orang-orang menyatakan kesiapan akan komitmen, namun lain di mulut lain di hati. Baginya ini bukanlah suatu hal yang membuat turunnya semangat, namun justru menarik. Ia sudah belajar di Asian Studies di Universitas tempat ia belajar saat ini. Bagaimana karakter-karakter sebuah bangsa. Khususnya Asia, dimana Bali ada dalam bagiannya.

Banyak yang gampang membuat komitmen atau janji, namun tidak demikian ketika akan menepati. Diam tanpa komunikasi terbuka tampaknya dilakukan sehingga membiarkan isu berkembang dan berlarut-larut. Menurutnya ini menarik. Ia melihat ini karakter yang melekat (static trait) pada karakter suatu wilayah dan individu, dimanapun orang tersebut berada, entah sudah memiliki pengalaman global atau belum. Ia sangat penasaran, kenapa dan bagaimana ini terjadi.

Berbagai pendapat dan pengalaman baik dari tulisan, buku, atau tuturan orang-orang yang sudah mengunjungi dan mempelajari Bali ia cari. Menarik bahwa banyak yang bilang selain eksotisme cantik dan keramah-tamahan yang ditawarkan, keberanian mengambil resikonya rendah, budaya tutur yang dominan, kesantunan yang diharapkan selalu ada, avoiding conflict, dan mindset yang cenderung fixed. Ini belum tentu benar semua, tapi ada benarnya. Ia sudah pernah mengunjungi Thailand, Vietnam, Filipina, Kamboja, dan secara umum, karakter-karakter ini ada, meski dengan versinya masing-masing.

Semua itu ia sadari akan ada kemanapun ia pergi. Hal ini juga ia yakini akan dialami oleh orang lain yang mengunjungi tempatnya lahir, yaitu Australia. Sebelum ia berangkat program pertukaran ini, ia sudah diberi pembekalan tentang Pemahaman Perbedaan Budaya (Cross Cultural Understanding), dimana intinya, bahwa semua tempat memiliki budaya masing-masing dan kemampuan beradaptasilah yang lebih penting. Sampai saat ini, Tim masih mencari para pembuat janji itu. Yang diawal tampak bersemangat, namun belum mampu menepatinya dengan berbagai alasan.

@mhsantosa
Circle me @ +Made Hery Santosa
©mhsantosa (2016)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: