Berbagi untuk Simpen

DSCN0034

Bersama Simpen, Sahabat Dua Dekade, Mendorong Semangat Bangkit

Saya dihubungi Ade, seorang teman masa SMA Negeri 1 (SMANSA) Singaraja, Bali. Sudah hampir 20 tahun lamanya saya tidak banyak bertemu kawan lama. Mungkin karena saya tidak banyak punya kawan memang sewaktu SMA. Menurut Ade, kawan-kawan se-SMA sedang berkumpul pelan-pelan dan mencoba berbuat sesuatu untuk almamater. Selain ajang temu kangen, tentunya. Saya kemudian bertemu kembali dengan kawan-kawan lama, secara virtual. Karena saat ini banyak teman saya yang sudah sukses, atau sudah sangat sukses. Teknologi kemudian yang membuat ini bisa terjadi. Ada Wismantara, Sudirman, Panji, Yogi, Kris, Kramas, Aula, Tahir, Eka, Fanny, Lila, Liana, Henry, Nesa, Dwinanda, Doananda, dan banyak lagi yang mungkin tidak saya ingat atau tidak mengenal saya karena ‘ketidak-ngetopan’ saya sebelumnya waktu masa itu ^^

Setelah ikut di tengah jalan, saya mencermati bahwa kawan-kawan dalam persatuan alumni SMANSA sudah mengusulkan pemberian beasiswa kepada adik-adik yang kurang mampu dan program membantu rekan-rekan SMA yang perlu bantuan. Program beasiswa sudah sedang berjalan. Saya mengusulkan agar tidak ‘hanya sekedar’ memberi bantuan beasiswa saja (meski ini sangat mulia), namun juga membuatnya memiliki impact lebih besar. Saat ini hampi dimana-mana ada program seperti ini. Namun, agar tidak terkesan memberi uang saja, usulan saya adalah agar dibuatkan program tambahan seperti upgrade skills, sharing atau berbagi inspirasi dan seterusnya, dengan tujuan impact lebih luas dan jangka panjang.

Satu program lain yang jalan adalah Berbagi untuk Simpen. Program ini membantu salah satu rekan alumni yang setelah ditelusuri oleh beberapa kawan lain, bahwa ada satu kawan yang meski dulu juara kelas, namun saat ini belum memiliki kehidupan yang cukup baik. Simpen, demikian namanya, saat ini bekerja serabutan di koperasi dan pasar, dengan kondisi yang memang perlu dibantu. Oleh seorang teman, lokasi Simpen kemudian berhasil ditemukan. Kebetulan teman ini seorang tentara saat ini. Mungkin ada hubungannya ya ^^

Dalam sebuah tim kecil, saya ditugasi oleh kawan-kawan untuk menjadi penghubung. Saya sendiri jujur banyak lupa dengan kawan-kawan SMA, maklum saya tidaklah orang yang ‘terkenal’ dan ‘berprestasi’ saat itu. Hanya biasa-biasa saja dengan kondisi finansial dan otak yang pas-pasan untuk sebuah sekolah favorit di kota kecil di Bali, namun sekolah ini adalah pencetak banyak tokoh-tokoh sebelumnya, baik yang berkiprah di pusat maupun daerah. Karena saya tidak ingat dengan Simpen, saya harus bertemu dulu dengannya dan mencari tahu lebih lanjut. Usaha saya sempat tersendat, karena Simpen tidak membalas SMS saya. Sengaja saya SMS agar tidak menggangu waktunya. Untung kemudian Simpen membalas dan saya segera menelponnya. Kami janji bertemu esok harinya di tempat yang ia rasa nyaman.

Simpen SMS saya keesokan harinya, mengajak saya bertemu di Kantor Pos. Saya iayakan. Saya ingin ia nyaman dulu. Saya kemudian bergerak menuju Kantor Pos dan mendapati seseorang yang hanya satu-satunya ada disana, duduk menunggu. Saya parkir kendaraan saya dan langsung menyapanya. Karena kami lupa satu sama lain (sudah 21 tahun yang lalu!), kami harus pelan-pelan lagi mengingat, menyebut nama-nama yang kami kenal untuk menghubungkan diri lebih erat lagi. Sebagai seseorang yang belajar psikologi, saya bisa rasakan Simpen sedikit merasa belum rileks, mungkin merasa kurang nyaman atau malu. Ia tahu bahwa kedatangan saya akan melakukan sesuatu untuknya; membawa misi teman-teman alumni.

Saya kemudian memang menyampaikan bahwa saya bertemu Simpen adalah untuk mendapatkan informasi apakah ia bersedia kami bantu, belajar kursus komputer. Kursus computer menjadi tawaran kami karena setelah mencari tahu sebelumnya, Simpen memang belum pernah kursus ini. Namun saya perlu menggali lagi kursus apa yang ia perlukan saat ini. Namun, usaha ini ternyata tidak semulus yang saya bayangkan. Simpen ternyata tipe orang yang, dalam pandangan saya, sangat rendah hati. Ia berkali-kali menolak halus tawaran ini, mengungkapkan berbagai alasan dan hal. Saya paham, ia mungkin tidak enak hati.

Saya kemudian tawari untuk beli minum di warung sebelah. Kami masing-masing membeli satu minuman dingin. Saya lanjut lagi berbicara dengannya dan meyakinkannya. Usaha ini adalah usaha tulus teman-teman alumni untuk membantu Simpen, jadi saya tekankan agar tidak dianggap apa-apa. Saya yang hanya berperan sebagai penghubung (saya tidak mampu saat ini menjadi donatur), berusaha meyakinkan sahabat SMA saya ini. Saya menemukan suatu momen meyakinkannya saat saya bercerita masa-masa ‘penuh tantangan’ ketika studi di Australia dulu. Berankat dari anak tentara balok dua yang tidak banyak punya apa-apa, saya dibesarkan dengan banyak nilai oleh orang tua saya. Nilai kejujuran, integritas, rendah hati, dan lain-lain. Tidak paling benar mungkin, tapi bagi saya ini memberi ruang dan peran membentuk diri.

Saya juga ceritakan satu kawan bernama Wahyu yang – mohon maaf – sedikit kurang pada penglihatannya, yang ditolak oleh STKIP N Singaraja ketika pendaftaran dulu, namun bertemu dengan saya secara telepon di Australia ketika sama-sama menjalani program doktoral kami. Wahyu ini sahabat yang sangat pintar, yang ditolak oleh banyak orang dan pihak karena kondisinya, namun kini menjadi salah dosen di Universitas ternama di Surabaya, mendapat beasiswa prestisius, dan tetap semangat. Banyak lagi saya sampaikan ‘motivasi-motivasi’ penyemangat agar Simpen berani bangkit dari situasinya saat ini. Saya paham, berangkat dari situasi serupa, ia perlu dorongan untuk maju. Akhirnya, ia sepakat dan saya ajak ia beli makan siobak, salah satu makanan khas Buleleng, Bali ^^

Simpen dan saya kemudian bersepakat untuk bertemu kembali untuk mendaftar kursus komputer di Singaraja. Dengan kawan-kawan di tim, kami sudah sepakati akan mencoba kurus di SLC, sebuah lembaga kursus di kota ini. Kebetulan, Direkturnya kawan saya di kantor. Setelah sehari sebelumnya tertunda karena kesibukan, saya dan Simpen sepakat bertemu dan mendaftar kursus. Saya jemput Simpen di depan tempat ia bekerja kemudian saya ajak ia menuju tempat kursus. Ia mengisi lembar registrasi sambil berbincang. Kebetulan Direktur, kawan saya itu, sedang disana, kami semua berbincang dan saya sampaikan tentang Simpen secara umum. Karena Simpen perlu pengetahuan dan ketrampilan dasar sekali tentang komputer, saya mintakan agar diberi pemahaman dobel pada dua jenis program, meski harga yang kami bayarkan hanya untuk satu program. Syukur, oleh pihal SLC hal tersebut bisa diatur ^^

Hari ini, Simpen akan menjalani kursus komputer pertama dalam hidupnya. Kami semua tentu berharap ia bisa menjalani dengan baik sehingga nanti bisa membantu peningkatan kualitas dirinya. Hal ini tentu saja hal kecil. Peran saya yang hanya sebagai penghubung tentu super kecil dibanding energi, sumbangan dan semangat kawan-kawan saya se-alumni SMANSA ’97. Namun saya yakin, tiada hal kecil di dunia ini jika ia tentang kebaikan.

@mhsantosa
Circle me @ +Made Hery Santosa
©mhsantosa (2016)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: