Buka Jalur di Batur

Batur-Caldera-Sunrise-Trekking-Bali-Hiking

Kawan-kawan pecinta alam pasti paham apa arti dari buka jalur. Pisau combat (sejenis pisau tentara berisi alat-alat lengkap) akan keluar dari sarungnya dan akan mulai menebas-nebas akar dan dahan untuk bisa membuat jalan baru. Saya sering mengalaminya ketika naik gunung dulu. Salah satu pengalaman yang tak bisa saya lupakan adalah ketika terpisah dari rombongan pendaki ketika naik gunung Batur.

Beberapa kawan dari pecinta alam yang saya ikuti memutuskan untuk mendaki Gunung Batur. Bagi saya, ini adalah yang kedua kalinya saya naik. Setelah menempuh jarak sekitar 3 jam dari Singaraja, kami sampai di hamparan luas bebatuan berselimut lava kemerahan. Hari sudah sore dan perpustakaan Sutan Takdir Alisjahbana ada di depan kami. Diputuskan untuk beristirahat dengan membangun tenda dome. Tenda ini sangat praktis untuk kami yang suka outdoor activities. Tidak berat dan gampang didirikan, di segala medan.

Setelah tenda berdiri, kami menyiapkan makan sore. Peralatan sederhana seperti nasting (kompor kecil untuk masak), parafin (bahan bakar masak), dan nasting (panci-panci) kami keluarkan. Biasanya satu tas carrier berisi semua perlengkapan ini; satu orang siap dengan dirinya untuk segala situasi. Malam kami lewati dengan api unggun sederhana untuk menghangatkan badan. Canda tawa adalah bagian dari kesederhaan malam penuh bintang.

Jam 3 dini hari kami sudah bersiap. Membongkar tenda dan menghilangkan segala sisa kemah malam hari kami. Setelah sarapan, kami melakukan peregangan sedikit agar badan lentur karena akan bergerak naik. Setelah semuanya siap, kami mulai berjalan. Kawan senior saya yang tampak lebih berpengalaman memimpin rombongan kami. Tinggi Gunung Batur adalah 1717m dari atas permukaan laut (gampang diingat yach:)). Diperlukan perjalanan sekitar 3 jam untuk mencapai puncaknya. Ada tiga bagian utama pendakian ini, satu akan melewati hutan, dua akan melewati bebatuan berpasir, dan tiga akan melewati hamparan batu berselimut lava kemerahan bekas letusan masa lalu.

Hari masih gelap, saya dan rombongan asyik berjalan menembus jalan setapak. Seperti disampaikan, bagian pertama jalur pendakian di Batur adalah hutan. Jalan mulai menanjak, dan deretan pinus mengiringi langkah kaki kami. Para pendaki di Batur ini biasanya ditemani oleh ‘pendaki’ lokal. Mereka tampaknya sangat terlatih bahkan dengan bawaan yang tak biasa juga. Mereka membawa botol minuman, makanan ringan, mi dan lainnya. Ya, mereka sebenarnya adalah para pedagang di sekitaran Batur yang sedang mencari nafkah dari kami para pendaki🙂. Saat ini, kawan-kawan pendaki bahkan sudah melihat banyak ada warung-warung sederhana yang semi permanen di atas sana. Menurut saya, ini harusnya tidak diijinkan. Selain berbahaya, mengingat status Batur yang termasuk gunung api aktif, aktivitas pedagang ini sangat mungkin membuat keaslian wilayah alam ini tercemari. Tapi jangan salah, banyak pendaki juga yang belum memahami pentingnya kebersihan gunung. Kamipun biasanya memungut sampah sepanjang perjalanan, paling tidak aksi kami sedikit membantu kebersihan lingkungan. Bukankah kontribusi itu bisa mulai dari hal kecil? Hehe…

Sambil mendaki, kami bercerita. Tentang apa saja. Tentang apa yang mungkin kami lakukan nanti diatas. Tentang di sekolah. Tentang hal lucu. Tentang cewek gebetan haha… Kadang kami berhenti sebentar karena ada yang perlu istirahat atau memungut sampah. Tentu sampah-sampah ini kami tidak bawa ke atas lagi. Tapi pada poin tertentu kami kumpulkan. Yang berbahaya menjadi fokus kami adalah sampah plastik karena sulit diurai oleh alam. Biasanya ini menjadi isu besar. Beberapa waktu lalu, ada postingan di facebook tentang seseorang yang mengaku pecinta alam, namun karena merasa dipalak sebelum mendaki Semeru, ia merasa ‘berhak dan benar’ melakukan apa saja termasuk buang sampah. Karena menurutnya, dengan jumlah uang masuk yang besar, pihak pengelola Semeru bisa menyewa petugas kebersihan untuk mengurusi sampah-sampah disana. Tentu ini salah. Adalah tugas kita semua untuk membuat lingkungan bersih. Apalagi kalau sampai mengaku-ngaku seorang pecinta alam. Malu ah.

Tak terasa, sudah sekitar 1 jam kami berjalan naik. Jalan setapak masih gelap. Sesekali cahaya bulan menyelip diantara pepohonan pinus memberi sedikit cahaya pada perjalanan kami. Di kala gelap, senter kami nyalakan, bergantian. Tanpa kami sadari, kami mulai mendengar suara sayup-sayup di seberang kami. Kami menoleh ke belakang, ternyata tak ada lagi rombongan lain! Hanya kami sekitar berlima. Kami mulai kebingungan. Memanggil-manggil kawan lain. Mereka ternyata menjawab, tapi suara saja, di sebelah kanan kami. Saat itu suasana masih gelap. Jadi kami tak tahu persis dimana kami dan rombongan lain. Yang kami tahu pasti, kami terpisah, dan rombongan lain ada di sebelah kanan jalan setapak yang kami lalui sekarang. Dari suara sahutan mereka, kira-kira jaraknya sekitar 50 meter dari kami. Lurus.

Kami berunding. Kalau turun, kami harus mengalah dengan waktu. Prediksi kami bisa menembus puncak Batur dalam waktu 3 jam sehingga kami semua bisa melihat matahari terbit. Setiap pendaki biasanya mencari matahari terbit. Ini adalah bukti keagungan Tuhan yang tak boleh disia-siakan. Harus dinikmati. Kalau turun, kami tidak tahu persis dimana cabang yang memisah, dan kami juga tidak tahu berapa lama waktu yang diperlukan. Pilihan lain, kami buka jalur. Artinya, kami harus menerobos dan membuka jalur baru. Resikonya, kami tak tahu ada apa di depan kami. Tapi kami siap. Paling tidak, sebelum mendaki dan kegiatan outdoor lainnya, kami sudah dibekali di pelatihan-pelatihan sebelumnya.

Kami menyisiri bagian jalan setapak di gelap malam. Sampai kemudian kami ke sebuah ujung jalan setapak yang kira-kira agak landai. Kami tahu, kami harus memotong jalan, dan untuk memotong, kami harus menerobos jalur gelap di depan kami. Kami tahu, itu jurang di hadapan kami. Kami cuma tidak tahu, berapa dalam jurang itu. Terdengar sahutan teman kami yang terus bergerak mengikuti kami di sisi lain jalan setapak yang terpisah. Kami tahu ada yang menunggu kami di seberang sana. Kami mengeluarkan tongkat pramuka yang kami bawa. Selain itu, tali pramuka juga kami keluarkan. Kris, salah seorang kawan yang kami anggap sebagai pemimpin kami, mengambil inisiatif untuk menggunakan tongkat mengecek kedalaman jurang. Ia mencoba mencari-cari bagian dasar dengan ujung tongkatnya namun tak juga ditemukan. Tonkat kemudian dilepas dan ternyata tidak juga kedengaran suara apapun. Sekarang baru saya sadari, harusnya tongkat tersebut diikat dengan tali dulu. Panik, mungkin jadi penyebabnya.

Akhirnya, Kris mengambil inisiatif lagi untuk turun duluan. Tas ransel berat yang ia bawa, dilepas dari punggungnya. Kemudian ia lempar ke bawah. Terdengar bunyi ‘bukk’ halus. Samar. Ia kemudian bersiap meluncur, sambil bilang “Kalo aku nggak ada suara, bilang ama pacarku ya.” Kami tersenyum pahit. Masa muda. Kami tak memperhitungkan resiko lain, hanya adrenalin. Ia meluncur, diiringi ucapan “Hati-hati” dari kami. Dengan memerosotkan diri, ia bergerak ke bawah. Lama senyap. Kami memanggil-manggil Kris. Masih senyap. Kami sudah mulai khawatir. Tapi kemudian, perlahan kami dengar suara samar Kris. “Aku ok, aku ok,” katanya. Kamipun tersenyum lega.

Satu-persatu kami turun ke bawah dengan memerosotkan diri. Saat saya turun, badan saya bergerak cepat. Adrenalin saya meloncat-loncat. Turun dengan cepat tanpa tahu dimana akan berhenti. Sampai akhirnya, “Bukk!” Saya berhenti dengan tas carrier naik lebih ke tas punggung saya. Saya melihat wajah teman-teman saya yang lebih dulu turun. Ada Kris, ada Yogi. Selanjutnya Putra dan beberapa kawan lain. Adrenalin ini belum berhenti meloncat-loncat. Setelah ini, jalan gelap masih ada di depan kami. Saya hidupkan senter. Tampak beberapa dahan dan ranting pohon melintang di depan kami. Sudah saatnya pisau combat keluar. Semua kemudian mengeluarkan pisau combatnya. Ini wajib, pisau dengan berbagai alat lain di dalamnya ini harus dibawa untuk berbagai keperluan.

Kami mulai menebas-nebas. Menerabas gelap jalan baru yang kami buka. Dahan dan ranting yang kiranya menghalangi kami tebas. Suara teman-teman di seberang sudah lebih dekat. Jalan juga sudah mulai menaik dan membaik. Sampai akhirnya kami sampai ke sebuah jalan setapak baru lagi dimana rombongan teman-teman kami yang terpisah sebelumnya sudah kami lihat. Senyum mereka mengembang menyambut kami. Senyum kami pun lepas. Perjalanan membuka jalur ini tak akan saya lupakan. Bagaimana sebuah keputusan harus dibuat. Sebuah jalan baru harus dibuka, dan menjadi pionir itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Perjalanan mendaki baru akan dimulai. Puncak Batur sudah menanti, dengan eidelweiss sepanjang jalan, gumpalan awan bergulung di bawah kami dan mentari pagi menyambut hangat. Salam lestari!

@mhsantosa

Circle me @ +Made Hery Santosa

©mhsantosa (2015)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: