Menolong Denok

Menolong

Acara malam hari kali ini baru saja selesai. Peserta berpakaian putih-putih sudah banyak yang pulang. Panitia berpakaian merah-merah masih ditempat dengan beberapa laki-laki yang siap-siap bekerja merapikan tempat ini kembali. Panggung penuh kemeriahan sangat penuh dan ramai sebelumnya. Banyak yang berfoto, setelah sebelumnya menjadi tempat acara. Panggung menjadi sangat penuh dan ramai. Keramaian sedikit demi sedikit berangsur reda, rintik hujan mulai terdengar. Banyak penonton memutuskan pulang agar tak kena hujan. Yang tinggal hanya yang masih ingin merasakan hangatnya malam dan yang bertugas merapikan tempat ini.

Tiba-tiba terdengar teriakan. Dan suara aduh. Beberapa orang mengerumuni seseorang yang tampak mengaduh kesakitan sambil memegang tangannya. Saya bergegas ke panggung dan melihat apa yang terjadi. Saya perhatikan sekeliling, tak ada lagi kawan dan kolega yang tinggal. Ternyata Denok tampak kesakitan memegang tangannya. Tepatnya di lengan. Kami semua khawatir. Ia meringis. Saya meminta salah satu temannya untuk memijat sedikit dengan harapan agar Denok merasa lebih baikan.

Saya kembali memantau situasi sekitar karena ada banyak yang sedang bekerja juga merapikan kursi-kursi. Semangat kemeriahan acara masih tampak terpancar dari wajah-wajah ini. Tugas saya hanya memastikan semua lancar dan mendukung sepenuhnya. Saya menuju sofa, rencananya hendak mengambil buket bunga dan mahkota yang diberikan sebelumnya sebagai bagian acara. Namun, tiba-tiba, Ketua Panitia bergegas menuju saya sambil meminta tolong untuk membawa Denok ke Rumah Sakit. Saya langsung berdiri dan sanggupi.

Bergegas, saya menuju mobil dan meminta dua orang lain teman Denok menemani. Saya membawa mobil ke depan dan meminta mereka masuk mobil. Sedikit cepat, saya membawa mobil menembus kegelapan malam menuju Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit. Saat itu, sudah menunjukkan pukul 23 malam. UGD tampak ramai. Sesuai namanya, banyak hal bersifat gawat darurat disini terjadi. Saya meminta dua teman Denok membawa Denok menuju dokter jaga. Saya harus memarkir mobil agar tidak menghalangi mobil yang membawa pasien gawat darurat lainnya.

Setelahnya, saya melihat Denok sudah didepan seorang dokter cantik. Temannya sedang mendaftarkan Denok. Sayangnya, mereka tidak membawa kartu apapun, karena panik tadi. Situasi yang diinformasikan kepada kami adalah akan dilakukan Rontgen, namun harus bergiliran menunggu. Setelah menunggu sekitar 45 menit (cukup lama ya!), Denok dan kami semua berjalan bersama satu petugas menuju ruang rontgen. Sampai disana, satu teman Denok diminta menunggu. Saya dan satu teman lainnya menunggu di depan ruang rontgen. Kami sangat khawatir jika Denok mengalami hal buruk. Kami menghindari berpikir buruk, seperti patah tangan, retak atau tulang bergeser, namun tetap tidak bisa. Situasi yang menyebabkan. Meski demikian, kami berharap Denok tidak apa-apa. Sekitar 5 menit, mereka keluar.

Kami belum bisa berkata apa-apa. Hasil rontgen masih harus dibaca oleh dokter. Kamipun kembali menuju UGD dan berharap yang terbaik. Denok masih tetap memegang siku lengannya sambil dibantu temannya. Beriiringan, kami berjalan di lorong temaram di koridor rumah sakit. Jam sudah menunjukkan pukul 23.15 malam. Dengan berdebar, saya dan satu teman Denok menunggu di luar karena tidak diperbolehkan. Dari kejauhan, hasil rontgen dilihat dan saya sempat khawatir sekali karena seperti melihat satu tulang yang patah milik Denok. Hal buruk ini jadi kenyataan. Meski demikian, saya tenangkan diri dan tunjukkan tenang. Bertanggung jawab adalah tugas saya, apapun yang terjadi, saya akan bertanggung jawab.

Saya minta satu teman Denok yang lain masuk untuk mendengarkan penjelasan dokter. Karena penasaran dan rasa tanggung jawab, saya putuskan masuk saja dan ikut mendengarkan penjelasan dokter tentang hasil rontgen ini. Hati kami lega, ternyata disimpulkan bahwa itu cuma masalah otot. Kami menarik nafas lega, semua lega. Denok, meski masih kesakitan, terlihat lega. Anak-anak ini jauh dari orang tua ketika menuntut ilmu, jadi otomatis saya harus mendampingi dan bertanggung jawab.

Proses administrasi kemudian diselesaikan. Proses pembayaran dilakukan. Obat diberikan setelah semua kami selesaikan. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Kami kemudian kembali menuju tempat acara karena masih ada anak-anak lain yang bekerja membersihkan panggung hiburan. Saya juga sambil memantau pekerjaan tersebut sebentar sebelum pulang karena besok pagi-pagi saya harus melihat anak-anak di kepanitiaan lain berkegiatan.

Malam sudah larut. Saya pamit kepada adik-adik yang masih bekerja. Di perjalanan pulang, saya merasakan dinginnya angin malam menembus dini hari. Saya percaya, menolong orang itu tidak perlu imbalan apa-apa. Berbuat baik itu tentang ketulusan hati. Saya berharap, Denok segera sembuh. Agar Denok bisa tersenyum manis kembali.

@mhsantosa

Circle me @ +Made Hery Santosa

©mhsantosa (2015)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: