Nyepi di Bali Kali Ini

Ini adalah kali pertama saya dan keluarga menjalani Nyepi setelah kembali ke Indonesia. Nyepi kami sebelumnya adalah momen bertiga di sebuah kamar di daerah Kingsbury, Victoria. Rachela yang kembali lagi setelah berpisah dengan saya cukup lama sejak lahir di Parkville, dan Manik yang harus menemaninya.

Nyepi di Melbourne sebelumnya tentu berbeda dengan Nyepi kali ini di Bali. Nyepi di Bali adalah Nyepi dengan Bali dan hampir seluruh komponen kehidupannya memiliki pandangan dan cara sama tentang Nyepi. Umatnya harus melakukan empat tapa brata penyepian – semacam semadi atau ‘pengasingan’ untuk menahan diri (1) tidak menyalakan api/listrik/nafsu diri (amati geni), (2) tidak bekerja (amati karya), (3) tidak berpergian (amati lelunganan), dan (4) tidak bersenang-senang (amati lelanguan). Yang menarik, sekarang banyak orang menambahkan “amati sampah” – semacam pemikiran (belum gerakan) agar umat Hindu tidak membuang sampah sembarangan setelah upacara.

Nyepi di Melbourne adalah tantangan. Ketika tidak semua orang melaksanakan Nyepi, kami justru mendapatkan ‘kenikmatan’ agung dengan menghadapi tantangan melaksanakan Nyepi di luar Bali. Kami berpuasa, kami tak keluar rumah, kami ‘menyepikan’ diri hanya dengan bertiga. Rachela tentu masih harus diberi tahu kenapa hari Nyepi kemarin itu tidak jalan-jalan di park sebelah rumah, seperti biasanya. Kenapa ia tak bisa bermain bubble di halaman belakang rumah. Kenapa ia tak bisa berlatih sepeda kayu roda dua pemberian Leo di jalan depan rumah.

Namun kami bersyukur, karena Melbourne itu multikultur, masyarakatnya paham akan perbedaan. Bahkan sering larut dalam keragaman. Seperti ketika kami menyanyi di Gereja ketika Natal. Seperti ketika saya berbuka puasa di masjid komunitas muslim Somalia sebelum Ramadan.

Kali ini, kami menikmati ‘menyepikan’ diri di hingar bingar arak-arakan ogoh-ogoh. Kami khusyuk dengan keluarga. Kami ingin mensyukuri kehadiran semua anggota keluarga kami dan berdoa agar kami selalu diberikan kedamaian hati, kebenaran bertindak, keberanian bersikap. Kami ingin bersyukur berbakti secara transendental ke Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa sambil berdoa agar calon anggota baru keluarga kami bisa tumbuh berkembang dengan sebaik-baiknya. Amin.

@mhsantosa

Circle me @ +Made Hery Santosa

©mhsantosa (2015)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Comments
6 Responses to “Nyepi di Bali Kali Ini”
  1. mawmawmawar says:

    Walaupun sudah lewat beberapa hari, saya ucapkan Selamat Hari Raya Nyepi, Pak Hery🙂

  2. Made Arsana says:

    Rahajeng nyanggre rahinan Nyepi Mr Hery, domogi irage preside ngelaksanayang catur brata penyepian, astungkara

  3. Saindra Santyadiputra says:

    Amin Om Her….
    Salam buat rachela ^^
    Selamat Hari Raya Nyepi buat keluarga…
    Semoga senantiasa diberikan kedamaian lahir bathin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: