Buang Sampah Lewat Jembatan

tumpukan-sampah-dikali-1Kesadaran masyarakat membuang sampah di tempat yang benar di Singaraja ini mengagetkan. Tulisan saya sebelumnya mengenai ini sempat saya tulis di tautan ini. Bagaimana seorang anak yang sedang dibonceng dengan santainya membuang sampah plastik sisa es yang diminumnya dari atas motor. Sang ibu tetap diam melajukan motornya. Entah karena tak tahu atau abai. Atau bagaimana seorang ibu berkacamata hitam trendy bermobil mewah dengan tak bersalah membuang sampah plastik dari mobil mewahnya.

Saya tak sengaja melihat orang berboncengan di malam hari berhenti di pinggir jalan sempit dan ramai dekat jembatan. Lalu lintas menjadi sedikit terhambat karenanya. Mereka kemudian dengan santai membuang bungkus plastik ke bawah melalui jembatan. Memang ada sungai besar di bawahnya. Sungai ini mengalir ke laut yang di bagian Utara. Sedikit mengulas arah, di Singaraja, konsep Utara – Selatan berbeda dengan arah kompas karena perspektif “Nyegara Gunung.” Sumber air seperti laut atau danau biasanya terletak dibagian selatan dan gunung atau hutan di utara. Keduanya merupakan sumber kehidupan yang harus dihormati. Selain itu, keduanya juga memiliki fungsi sosial religius tinggi bagi masyarakat Hindu Bali. Lucunya tentu, orang Bali Utara (Singaraja) sering bilang pantainya itu arah selatan (bahasa Balinya lod atau kelod meski sebenarnya Utara) dan lawannya, yang merupakan kawasan bukit dan hutan di Bedugul adalah utara (kaja meski sebenarnya itu selatan). Well, saya tidak akan membahas lebih jauh, mengingat penguasaan dan fokus tulisan ini berbeda.

Kembali ke tulisan ini, si pembuang sampah tampaknya tidak ambil pusing dengan perilakunya. Bisa saja, mereka pikir sudah, yang penting buang sampah dan sampah itu sudah bukan urusan mereka lagi. Sama juga ketika ada seorang Bapak yang dengan anak kecilnya berhenti di pinggir sungai dan si Bapak dengan cueknya membuang sampah plastik ke sungai. Si anak? Tentu saja ia melihatnya. Tak ada masalah bagi keduanya.

Ini tentu masalah perspektif dan kesadaran. Wawasan bahwa sampah itu sudah dibuang, sudah bukan miliknya lagi. Kesadaran bahwa sampah yang dibuang sembarangan (termasuk, yang dibakar, tidak disortir apa bisa didaur ulang atau tidak) masih sangat rendah. Kesalahan biasanya ditimpakan pada pemerintah yang tak bisa mengakomodasi hal ini. Saya yakin pemerintah sudah berusaha, namun saya bisa bilang juga bahwa hal itu sangat kurang. Sampah masih tak diurus dengan teratur. Tempat pembuangan yang memakai kotak permanen (baca tulisan ini) sehingga tak memudahkan proses pengangkatan dan pengangkutan.

Ketika saya kembali dari studi, saya banyak melihat perubahan penanganan sampah ini. Di tempat saya tinggal, sudah ada LSM yang secara swadaya mau mengangkut sampah di lingkungan kami. Memang kami harus membayar retribusi sebanyak Rp. 15.000/bulan. Wajar saja. Menurut saya, ini juga hal bagus. Saya melihat banyak kalangan mulai bergerak seperti ini. Ketika pemerintah pusat sudah tak bisa lagi mendengar, mengakomodasi dan memberi perbaikan, gerakan-gerakan lokal harus digalakkan. Terlepas dari kekurangan yang ada dari penanganan sampah LSM ini, saya lebih menghargai usaha ini daripada para pembuang sampah tak tahu malu itu. Tentu, semua harus mulai dari diri sendiri. Gerakan pungut sampah dari Walikota Bandung, Kang Ridwan Kamil, tentu bisa jadi contoh. Bali seharusnya bisa. Bali harus dibuat bersih lingkungan dan bersih hati (baca tulisan ini).

Sumber gambar

@mhsantosa

Circle me @ +Made Hery Santosa

©mhsantosa (2014)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

 

Comments
2 Responses to “Buang Sampah Lewat Jembatan”
  1. Tyadhi says:

    begitulah budaya orang Indonesia pak..
    masih belum menyadari sepenuhnya arti dari membuang sampah pada tempatnya..
    sebagian besar mereka tidak peduli akan dampak yang ditimbulkan..
    oleh karena itu kita harus bisa melakukan hal utk bisa mengatasi masalah tersebut..
    memulai dari diri kita sendiri sangat penting, hal kecil yg kita lakukan seperti membuang sampah pada tempatnya akan membawakan dampak yg besar nanti nya..
    selain itu kita bisa mengajak teman ato orang” terdekat kita untuk melakukan aksi peduli terhadap lingkungan (membuang sampah pada tempatnya) untuk mencegah terjadi na hal hal yang tidak diinginkan (seperti bencana banjir)..
    sebagai orang yg peduli akan lingkungan sekitar, kita harus bisa menyadarkan persepsi orang” yg meleset tentang sampah tersebut..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: