Menyapa Mentari Singaraja

Cahaya matahari yang berlimpah langsung menyambut kedatangan kami. Di setiap sudut kehidupan, cahayanya masuk memberi kehidupan dan penghidupan orang-orang dibawahnya. Seperti tunas-tunas pohon di hutan Amazon Brazil yang bisa tumbuh karena proses fotosintesis cahaya matahari. Seperti bayi-bayi singa di Afrika bisa berjalan bersama sang ayah di savana luas sambil belajar akan wilayahnya. Seperti anak-anak kecil lucu di Oslo yang bisa tersenyum sambil bermain ketika matahari muncul bersinar cerah, meski hanya sebentar karena letak geografis negaranya.

Saya ingat, matahari yang sama juga muncul menyapa saya dan kawan-kawan sehabis bermalam di sebuah sungai dalam perjalanan mendaki gunung Lesung sekitar 18 tahun lalu. Gunung ini merupakan salah satu gunung di Bali yang membentang dari Singaraja menuju perbukitan di selatan danau Tamblingan, dekat kawasan sejuk Bedugul, Bali. Saat itu, saya dan kawan-kawan yang menamai diri Pecinta Alam (PA) sedikit nekat mendaki. Setelah berjalan beberapa kilometer, kami memutuskan untuk beristirahat sebentar. Berbekal dua tenda dome, kami memutuskan bermalam di tengah-tengah pendakian tersebut.

Didepan kami, ada sebuah sungai mengalir, dan pada satu bagian, terdapat semacam kolam yang cukup dalam. Ditemani kunang-kunang yang berkelap-kelip di sudut-sudut remang, satu persatu, kami menceburkan diri dan merasakan segar kecipak air sungai tersebut. Setelah melewati malam menikmati hidangan pancake hangat, kami bangun menyapa mentari pagi. Singaraja dan kehidupan yang ada dibawah sepertinya mulai menggeliat.

Lain Singaraja, lain lagi Melbourne. Belakangan kemarin, suhu sudah mulai sangat dingin terutama di pagi hari. Ketika pagi menjelang, suhu bisa sampai lima derajat Celcius meski musim belumlah memasuki musim dingin. Tentu cuaca dingin adalah saat asyik untuk tetap meringkuk di selimut tebal beralas selimut listrik atau penghangat ruangan. Oleh karenanya, matahari yang muncul di negara-negara yang bukan di garis khatulistiwa adalah suatu anugrah karena hangatnya bisa membuat kehidupan lebih berwarna. Matahari itu tanpa kita sadari adalah sumber kehidupan tak terbantahkan.

Saya bersyukur pernah mengetahui bahwa matahari terbenam lebih belakangan dari jam seharusnya ketika berada di Amsterdam dahulu. Saya menikmati perbedaan waktu ketika memikirkan harus menghubungi keluarga atau teman ketika di Ho Chi Minh dulu. Saya tersenyum akan pengalaman Daylight Savings di Melbourne dimana saya bisa tidur lebih lama lagi. Semua itu pastinya memberi warna dalam perjalanan akan perspektif yang beragam, akan masa datang. Namun ada yang berbeda saya rasakan ketika mentari menyapa wajah kali ini. Lebih hangat. Sehangat pelukan orang tua dan keluarga kami yang sudah menanti kedatangan anak-anaknya dari perantauan jauh. Bukan saja menantikan seseorang yang datang dengan gelar akademis tertinggi, namun manusia lebih berbudi.

“Kawan, rentangkan sayapmu. Kepakkan, agar kau bisa terbang setinggi-tingginya. Dan ketika engkau kembali ke sarangmu, berikan makan anak-anakmu dari paruh kuatmu.” ~Made Hery

@mhsantosa

Circle me @ +Made Hery Santosa

©mhsantosa (2014)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: