Grey Literature: Ketika Bahan Pustaka Abu-abu

Grey Literature

Grey Literature

Pernah mendengar Grey Literature?
Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah pelatihan gratis di perpustakaan kampus saya. Pelatihan ini adalah salah satu dari sekian banyak pelatihan gratis yang diberikan oleh unit-unit yang ada di kampus, termasuk oleh perpustakaan. Biasanya awal semester, daftar pelatihan sudah dirilis secara terbuka di website perpustakaan dan semua mahasiswa bisa memilih yang sesuai dengan minat dan bidang. Jika sedang melakukan atau akan melakukan riset, akan ada banyak sekali ditawarkan pelatihan atau lokakarya gratis untuk meningkatkan kapasitas. Mulai yang sederhana seperti browsing di Internet sampai yang sifatnya teknis sesuai dengan area kajian masing-masing. Sifatnya mengakomodasi yang semua kebutuhan namun pemilihan diserahkan ke yang memerlukan. Tinggal memasukkan data diri dan email, kita akan terdaftar. Konfirmasi berisi detil kegiatan akan otomatis terkirim ke email kita. Sehari sebelum kegiatan nanti, akan ada reminder di email kita mengingatkan akan kegiatan yang kita ikuti tersebut.

Pelatihan-pelatihan ini juga bisa diikuti oleh para staf akademik yang ingin belajar. Kebetulan, saya diberikan staff email. Artinya, selain banyak pelatihan gratis tadi, tersedia lebih banyak kesempatan dan tawaran belajar dan menambah pengalaman karena seorang staf biasanya mendapatkan privilege sedikit lebih dari student. Tiap minggu misalnya akan ada informasi reguler departemen komunikasi tentang situasi terkini kampus termasuk informasi project dan skema dana yang bisa didapatkan oleh staf dengan cara kompetisi. Untuk kesempatan pelatihan, penting untuk memperoleh informasi sesegera mungkin agar bisa registrasi sehingga tidak kehabisan tempat. Biasanya, topik-topik yang banyak peminat akan diadakan lebih dari sekali dalam satu semester sehingga mahasiswa atau staf yang belum mendapat kesempatan masih bisa mendaftar di kesempatan kedua. Sepanjang tetap rajin melihat tawaran-tawaran seperti ini, rasanya kesempatan belajar dan menambah wawasan itu sangat besar. Nah, kali ini saya ingin berbagi mengenai Grey Literature.

Apa itu Grey Literature?
Pelatihan yang saya ikuti kali ini berjudul “Grey Literature” (selanjutnya GL) atau bisa saya istilahkan dengan “Bahan Pustaka Abu-abu.” Jujur, ini istilah baru bagi saya. Dan memang, saat ini GL mencuat karena berbagai penyebab. Salah satunya adalah semakin pesatnya perkembangan informasi via internet. Banyak orang dengam mudah mengambil informasi tertentu untuk kepentingan rujukan namun jika kurang berhati-hati, informasi yang diberikan bisa lemah. Lemah dalam artian tidak didukung oleh bukti sahih dan kuat; tidak memiliki rujukan yang sudah ditelaah (review); atau tidak bisa dilacak.

Apa sih yang dimaksud dengan GL ini? Menurut definisi yang disampaikan di The Fourth International Conference on Grey Literature di Washington, DC bulan Oktober tahun 1999, Grey (atau gray) literature adalah “That which is produced on all levels of government, academics, business and industry in print and electronic formats, but which is not controlled by commercial publishers” (bisa dibaca lebih lanjut disini). Secara sederhana GL bisa diartikan semua materi baik cetak mapun elektronik oleh pemerintah, akademisi, bisnis dan industri lainnya yang tidak dipublikasi oleh penerbit yang memiliki ijin.

Kapan sebuah sumber informasi disebut GL?
Sesuai definisinya, akan ada banyak bahan pustaka abu-abu ini. Mulai dari tesis, laporan pemerintah, informasi dari blog dan seterusnya. Dari berbagai sumber, saya menemukan bahwa tipe-tipe GL adalah sebagai berikut (saya biarkan dalam bahasa Inggris untuk menghindari perubahan makna). Lebih lanjut bisa dibaca disini dan disini.

Tipe GL Lama
• Dissertation and thesis
• Conference proceedings and abstracts
• Government documents
• Newsletters and reports
• Translations
• Census, economic and other data
• Statistics
• Registered clinical trials, research and guidelines
• Research registers
• Technical reports
• Video
• OAIster (Open Archive Initiatives)
The Grey Literature Report (American focus)
Open Grey (European focus)
Trove
The Agency for Healthcare Research and Quality
Grey Literature Network Service
• Email
• Bulletin
• Pamphlets
• Fact sheets
• Survey
• Interview

Tipe GL Baru
• Informal communication (minutes)
• E-prints and pre-prints
• Blogs
• Web-based video and audio (YouTube, podcast)
• Google Scholar
• Research profiles
• Repositories
• Catalogues (WorldCat, Australian National Libraries)

Saat ini, banyak pihak pemerintah, kalangan profesional dan lembaga-lembaga perguruan tinggi mulai mencetak laporan atau dokumen mereka yang kemudian disebarkan gratis di Internet. Karenanya, ragam publikasi ini menjadi lebih mudah dicari dengan mesin pencari yang semakin akurat. Karena mudah diakses, harga murah bahkan gratis (tidak seperti artikel di jurnal berbayar), semakin banyak orang menggunakannya sebagai rujukan tulisan.

Permasalahan muncul kemudian ketika publikasi tersebut memuat suatu informasi penting. Namun ketika dirujuk, penulis tidak bisa menemukan data lengkap untuk bibliografi, seperti nama, tahun, dan seterusnya. Selain itu, kelemahan GL ini bisa terjadi juga pada ‘broken links’. Karena berupa publikasi online, bisa saja dokumen tersebut tidak lagi tersedia di dunia maya. Lagi-lagi karena ia tidak memiliki perangkat online yang bisa dirujuk, misal Digital Object Identifier (DOI) pada artikel jurnal.

Bagaimana Menyikapinya dalam Konteks Akademis?
Saat ini GL sudah semakin berkembang seiiring perkembangan teknologi dan banyak pihak mulai menyuarakan pentingnya GL bisa digunakan sebagai rujukan akademis. Di jaman (minimal) Web 2.0 ini, orang sudah lebih mudah menjadi author sendiri dan dengan koneksi yang mudah, penyebaran atau akses informasi menjadi lebih cepat dan luas. Akibatnya, tipe-tipe GL yang lebih baru cepat bermunculan. Ketika saya mengajar, saya melihat banyak mahasiswa misalnya mengambil suatu informasi di blog (mentah) dan menggunakannya sebagi suatu pendapat ahli (ini belum termasuk kecurangan akademis seperti plagiarisme). Atau ketika saya melakukan review artikel-artikel untuk jurnal, sering sekali saya melihat rujukan-rujukan yang bersifat GL ini. Fenomena lain seperti merujuk sumber kedua – bukan pada rujukan asli – juga banyak terjadi karena sangat kurangnya sumber rujukan. Hal ini jelas akan mempengaruhi kualitas suatu tulisan.

Untuk itu, jika kita sudah mengetahui apa yang dimaksud dengan GL beserta jenisnya, tahap selanjutnya adalah menghindari rujukan informasi yang bersifat GL. Berikut saya sampaikan beberapa cara untuk mengevaluasi rujukan yang bersifat GL. Cara ini bernama AACODS (Authority, Accuracy, Coverage, Objectivity, Date and Significance).

Authority: Apakah penulis termasuk orang yang kredibel? Sering menulis? Kualitas peer-reviewed?
Accuracy: Apakah informasi yang menjadi rujukan didukung oleh rujukan lain yang cukup sahih? Apakah relevan dengan studi lain? Apakah metodologinya jelas?
Coverage: Apakah batasan-batasan studi disampaikan dengan jelas?
Objectivity: Apakah ada potensi bias (informasi yang tidak konsisten atau menyimpang)?
Date: Apakah tanggal penulisan bisa ditemukan dengan mudah?
Significance: Apakah materi rujukan relevan? Apakah informasi tersebut akan memperkaya atau memberi dampak lebih kuat pada tulisan?

Meski kita sudah mengetahui segala aspek GL, penerapan penggunaannya bisa jadi tidak mudah. GL saat ini sudah semakin dianggap sebagai suatu sumber diseminasi penting mengenai hal-hal seperti hasil penelitian atau kebijakan pemerintah. ‘Perang’ intelektual dengan artikel yang lolos proses peer-review dari jurnal berbayar telah dimulai. Open Access pun masih menjadi perdebatan. Keberadaan internet telah mengubah aspek-aspek informasi termasuk kesahihannya. Jalan GL masih panjang, dan pihak-pihak seperti pustakawan masih terus bekerja keras memecahkan cara bagaimana GL bisa lebih mudah digunakan namun tidak mengurangi tuntutan kualitas suatu rujukan.

Saran saya, jika suatu tulisan tidak melewati kriteria AACODS tadi, seorang penulis harus berani melepas rujukan tersebut. Menggunakan informasi dari artikel atau publikasi lain yang sudah melewati proses peer-review lebih diharapkan. Akses bisa didapatkan dengan berlangganan sendiri atau meminta institusi tempat bekerja untuk berlangganan atau meminta bantuan grup-grup tertentu yang anggotanya adalah staf universitas atau mahasiswa riset yang bisa mencarikan tulisan-tulisan tersebut. Saya sendiri telah berulang kali membantu kawan-kawan mencari artikel karena berbagai keterbatasan tadi. Demikian teman-teman, semoga bermanfaat. Jika ada masukan atau pertanyaan, jangan sungkan ya hubungi saya :))

Bacaan tambahan
Grey literature considered harmful?
Why is grey literature not open access?
Benefits of Open Access
World Bank Open Access Policy for Formal Publications (English)

Sumber gambar

@mhsantosa

©mhsantosa (2014)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: