Belajar Menjadi Peer-Reviewer (Bagian Dua)

peerreviewSaya sedang mengajar tentang konsep berpikir ilmiah di kelas riset ketika saya merasa HP bergetar beberapa kali. Sepuluh menit lagi, kelas ini akan selesai. Saat saya kembali ke kantor, saya melihat beberapa email dan pesan masuk. Kita ketahui bersama, dengan perkembangan teknologi yang pesat saat ini, konektivitas kita dengan dunia luar seaakan tiada batas lagi. Dari apa yang saya lihat di layar, yang paling menarik adalah pesan di inbox FB yang datang kawan saya.

Pesan tersebut datang dari Mas Bagus Nugroho, salah seorang kawan yang smart dan aktif. Saya bertemu dengan Mas Bagus, begitu saya memanggilnya, ketika berangkat bersama-sama ke konggres Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Canberra. Saat itu, Mas Bagus adalah calon Presiden PPIA yang diusung oleh negara bagian Victoria dan pada saat pemilihan, ternyata ia terpilih menjadi Presidennya.

Didalam pesannya, ia menanyakan apakah saya bersedia menjadi salah satu reviewer untuk menyeleksi artikel-artikel, khususnya dalam area pendidikan, yang masuk ke Indonesian Scholar Journal (ISJ) sebelum dipublikasikan. ISJ adalah sebuah wadah publikasi ilmiah untuk menampung pemikiran-pemikiran para pelajar Indonesia yang sedang studi di luar negeri. ISJ baru memiliki satu publikasi. Rupanya, ia sekarang menjadi salah satu executive board ISJ. Sayapun langsung mengiyakan. Meski saya pernah menjadi peer-reviewer sebelumnya, saya pikir ini kesempatan baik bagi saya untuk terus belajar.

Segera setelah kontak singkat itu, saya menerima email kontak person yang in charge dalam hal paper review. Dua buah artikel kemudian dikirimkan ke email saya. Sebagai bagian profesionalisme, dengan segera saya membalas email, mengatakan bahwa saya sudah menerima dan akan melakukan review. Melakukan paper review ini tentu harus sejalan dengan ketentuan yang diberikan karena masing-masing jurnal bisa saja mempunyai kriteria berbeda. Saya baca dengan teliti kriteria dan teknis melakukan paper review.

Pada prinsipnya, kriteria di banyak publikasi akan mencakup beberapa hal, seperti originalitas, argument dalam penulisan latar belakang, teori pendukung yang relevan dan bersifat seminal (penting sekali), metodologi tepat, analisa data yang kaya, lengkap dengan kemampuan berargumen dan menghubungkan dengan teori atau pendapat yang sudah ada. Hal-hal lain yang juga penting meliputi ethical clearance (ijin penelitian, jika ke lapangan), plagiarisme (ini penting!). Beberapa hal lainnya sifatnya melengkapi namun tetap harus dipahami. Misal, sebagai reviewer, dianjurkan untuk tidak menyebut kata ‘penulis’ tapi ‘tulisan’ dan seterusnya. Tentu jika ada hal yang belum jelas, reviewer bisa menghubungi editor.

Saya beruntung, selain pernah mereview abstrak conference paper untuk teman saya di De Salle University di Filipina, saya pernah diminta pendapat untuk artikel di jurnal PPIA. Mas Bagus, yang waktu itu masih sebagai Presiden PPIA, memerlukan semacam second opinion mengenai artikel dengan konteks Bali dan budayanya. Saya merasa, pengalaman ini cukup membantu.

Sesuai ketetuan, saya diberi waktu 1 – 2 minggu untuk melakukan review. Namun harus saya akui, ini tidak mudah. Karena kegiatan yang cukup banyak, saya baru melakukan review seminggu sesudah artikel dikirimkan. Salah satu manfaat terbesar dari mereview ini adalah belajar hal baru. Tulisan yang diberikan ke saya disesuaikan dengan bidang saya, yaitu pendidikan. Satu tulisan menulis tentang pengembangan bahan ajar dalam konteks kurikulum 2013 dan satu lagi tentang peningkatan motivasi membaca. Menarik sekali! Salah satunya bahkan menggunakan statistika yang cukup kompleks. Beruntung, saya melakukan mixed-method di disertasi doktoral saya saat ini sehingga sedikit tidaknya saya paham prinsip kuantitatif.

Selain keuntungan, mereview artikel ternyata memberi tanggung jawab akademis yang tidak ringan. Collins, seorang Academic Advisor di tempat saya bekerja paruh waktu sebagai pengajar Academic dan Research Skills, menekankan sekali hal ini. Ia cukup banyak melihat mahasiswa calon master dan PhD yang kualitas tulisannya (baca: argumennya) lemah. Dan ini banyak datang dari negara-negara yang cenderung memiliki pembelajaran teacher-centred; yang kurang menekankan kemampuan berpikir kritis.

Proses peer-review ini juga tidak mudah. Banyak tahapan yang harus dilalui. Saat ini, saya baru saja memeriksa kembali revisi dari artikel yang statusnya ‘conditional’ dimana (para) penulis harus merevisi sesuai dengan feedback yang diberikan. Saya berharap semoga pengalaman ini terus mendorong semangat menulis saya, baik akademis maupun kreatif. Bagi kawan lain, semoga tulisan ini bermanfaat🙂

Bersambung
Image

@mhsantosa

©mhsantosa (2014)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: