Mengejar Momentum

momentumSaya sedang berdiri di sebuah café di dalam perpustakaan sambil celingukan. Saat itu, saya sedang menunggu kedua pembimbing saya untuk minum kopi. Jika sebelumnya, saya selalu ditraktir, kali ini saya memberanikan diri untuk mentraktir mereka. Bukan berarti saya banyak uang. Dibanding gaji Professor, tentu saya tidak ada apa-apanya haha😀. Tapi yang paling penting tentu bukan sekedar mentraktir itu, tapi prinsip kolegial yang indah saya rasakan. Teori Hofstede tentang socio-cultural dimension (misalnya mengenai konsep power/distance; hirarki; senioritas dan seterusnya) tidak berlaku dalam konteks kali ini. Dalam situasi tepat, hal ini tentu akan mendukung peningkatan profesionalisme diri.

Jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 11.55 siang. Lima menit sebelumnya, saya sudah bersiap, bergegas turun dari kantor saya. Saat itu, saya berada di ruangan tempat saya bekerja sebagai asisten riset, bukan sebagai student. Karena letaknya di lantai 4, saya harus mengalokasikan waktu agar tidak terlambat. Saya pikir tepat waktu menunjukkan komitmen saya sebagai si pengundang. Tentu saja, hal ini berlaku sama ketika saya menjadi yang diundang. Di depan konter, saya lihat banyak sekali orang antre memesan. Tidak ada yang berebutan. Seperti tempat lain, café ini selalu ramai, apalagi waktu makan siang. Meski orang-orang tidak makan besar, tapi ngobrol dan bercengkrama sambil minum berbagai pilihan minuman bisa jadi sangat menyenangkan.

Sebelum pukul 12 siang, kedua pembimbing saya datang. Just in time. Saya langsung menyapa mereka. Setelahnya, saya bertanya apa yang ingin mereka pesan dan setelah jelas, saya persilahkan mereka menunggu di meja yang mereka pilih. Sayapun menuju meja tersebut dengan nomor yang mereka berikan karena pesanan akan dibawakan kesana. Saya taruh tas, kemudian mengambil sebotol air putih, tiga gelas dan beberapa helai tisu. Sambil berbincang santai, saya tuang air putih ke hadapan mereka. Kedua pembimbing saya ini termasuk orang sibuk. Pembimbing utama saya baru saja datang dari Inggris, Amerika dan Kanada sebagai pemakalah kunci. Sebelumnya, ia dengan antusias menunjukkan foto-foto air terjun Niagara di group meeting dwi mingguan kami. Saya paham maksudnya adalah bukan ingin pamer, namun lebih pada memberi mimpi dan menginspirasi. Pembimbing saya yang lain saya baru saja datang dari Jerman melakukan riset dan saat ini sedang dalam posisi mengambil sabbatical leave. Namun, terlepas dari hal-hal tersebut, korespondensi kami tetaplah lancar karena setiap email saya selalu dibalas dengan cepat.

Perbincangan kami saat itu tidak khusus mengenai perjalanan akademik saya. Namun pada kegiatan lain yang saya lakukan di luar kedua hal tersebut. Saya katakan bahwa saya sedang mengajar Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan juga diminta menjadi research assistant. Selain itu, saya dan kawan-kawan lain melakukan usaha membantu adik-adik pemuda di Indonesia dalam wadah bernama Indonesia Belajar. Ini adalah sebuah rumah bersama kawan-kawan yang gelisah melihat banyaknya isu krusial di Indonesia yang tidak ditangani dengan serius. Misal saja, pendidikan. Berbagai hasil studi (Human Development Index, PISA, dst) sudah menunjukkan gejala penurunan kualitas bangsa (ini harus dilihat dari perbandingan dengan konteks global, bukan hanya di dalam Indonesia saja). Dan kami ingin berbuat sesuatu.

Mereka hanya tersenyum, menggangguk sambil sesekali bertanya. Meski mengingatkan agar fokus, masing-masing sangat menunjukkan dukungannya. Mereka adalah orang-orang yang sudah cukup pengalaman di konteks global. Mereka sangat paham konteks Asia dan tentu saja, Indonesia. Karenanya, mereka sangat memahami kegelisahan saya. Selain isu-isu socio-cultural dimensions tadi, praktik-praktik kotor seperti korupsi, kolusi dan nepotisme sangat mempengaruhi kualitas suatu bangsa. Dan mereka setuju jika saya dan kawan-kawan bisa menjadi salah satu ‘agen perubahan’ tersebut. Tentu ada banyak cara. Dan bagi saya, ini hanya salah satu dari inisiatif-inisiatif lain yang saya lakukan. Tidak waktunya lagi hanya berbicara. Sudah saatnya berbuat nyata. Satu pesan yang paling saya ingat dari mereka adalah, “Sekarang saatnya kamu mengejar momentum!”

@mhsantosa

Sumber gambar

©mhsantosa (2013)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: