Raymond: Guru Tuna Daksa Pengajar Mata Hati

Kawan saya Olivia berbaik hati mengantar saya dari Uni ke language centre di LTU dimana saya harus mengajar bahasa Inggris ke mahasiswa internasional. Saat itu, saya harus ET, maksudnya melakukan Emergency Teaching, menggantikan guru lain yang tidak bisa mengajar. Karena ini bukan kelas yang saya pegang, saya harus menemui program coordinator untuk mengetahui apa yang harus saya lakukan. Di penghujung musim semi ini, cuaca agak cerah meski angin mulai berhembus panas.

Saya membuka pintu menuju kantor guru dengan access card yang diberikan ke saya sebelumnya. Access card ini bisa digunakan untuk masuk ke seluruh ruangan institusi ini. Tergantung juga dua kunci lain, satu kunci kelas dan satu kunci untuk mengakses perangkat audio visual. Semuanya bisa digunakan di semua kelas yang ada. Praktis dan simpel. Saya kemudian langsung menuju teacher’s folder untuk mengambil log folder dari kelas yang saya akan ajar. Setelah saya baca, saya menemui Lorraine, program coordinator untuk bertanya beberapa hal.

Ketika saya ketuk pintu ruangannya, Lorraine sedang asyik di depan komputernya mengerjakan sesuatu. Saya tersenyum dan mengucap salam. Ia dengan hangat membalas salam saya. Suasana kolegial sangat terasa. Meski ia posisinya jauh lebih penting dibanding saya, namun kehangatan tak berjarak selalu terasa. Ia kemudian menjelaskan secara umum apa yang harus saya lakukan di kelas. Termasuk menggunakan beberapa fitur program eLearning yang dibangun khusus untuk pembelajaran disini. Lengkap. Bahkan eLearning platform yang saya jalankan sendiri saja tidak selengkap ini. Rasanya bisa saya pelajari nanti kalau nanti sudah senggang. Setelah selesai, ia kemudian mengajak saya bertemu Raymond, guru lain yang menjadi co-teacher dari kelas yang akan saya ajar ini. Setelah saya dipertemukan dengan Raymond, Lorraine meninggalkan kami.

Raymond dengan senyumnya kemudian menyapa saya. Ia duduk di meja kantornya menghadapi komputer. Ia adalah laki-laki murah senyum, sangat tampan dan berbadan atletis. Setidaknya ketika ia duduk. Tetapi karena kemudian ia harus bangun dan berjalan menunjukkan DVD yang harus saya pakai mengajar, saya baru sadar bahwa ia berjalan dengan tidak sempurna. Kedua kakinya tidak cukup kuat menopang badannya sehingga ia harus berjalan pelan, sedikit bergoyang bahkan. Kakinya membentuk X, mungkin polio – tidak sempurna. Saya cuma tidak tahu nama medisnya.

Tentu saya tidak serta merta harus mengejek atau bahkan mengasihaninya. Bukan. Bukan itu. Ia adalah manusia yang mempunyai hak sama untuk menikmati hidup di dunia ini. Selain support medis yang baik, ia mampu karena memang diberikan kesempatan untuk menjadi mampu. Karena berbagi dukungan ini, ia tetap mampu secara fisik – berjalan tidak memakai tongkat dan alat bantu lainnya. Ia juga mampu sebagai manusia setara. Dan terbukti ia mampu menjadi guru yang bagus. Menjadi guru, menurut saya, adalah bukan pekerjaan mudah. Harus ada passion – panggilan jiwa. Karena ini adalah pekerjaan dimana hasilnya tidak instan; pengerjaan jangka panjang dan sangat bersifat sosial. Coba bandingkan misalnya dengan pekerjaan lain yang sifatnya murni profit. Menjadi guru juga harus mampu menggunakan mata hati, karena guru sudah seharusnya menjadi role model yang baik bagi murid-muridnya.

Saya kemudian berpisah dengannya karena harus menyiapkan diri untuk mengajar. Beberapa hari kemudian, ia menyapa saya sambil bertanya bagaimana kelas yang saya ajar. Saya katakan bahwa semua berjalan lancar dan terima kasih atas bantuannya. Kelas tersebut sudah Level 5 jadi tidak terlalu bermasalah, meski ada satu dua mahasiswa yang belum terlalu bisa. Wajar. Ia kemudian menawarkan makan siang bareng di staff room. Kebetulan saat itu saya membawa bekal makan siang yang saya siapkan paginya. Saya membawa sandwich karena praktis saja, namun bisa mengenyangkan.

Kami masuk ke staff common room untuk makan. Di luar ruangan sudah banyak sekali mahasiswa yang mengantre microwave untuk menghangatkan makanannya. Tersedia juga kantin. Raymond tadi sudah memesan roll burger dari kantin tersebut. Saya juga pernah beberapa kali membeli latte ketika waktu istirahat. Yang menarik, mereka selalu mengira saya salah satu mahasiswa, haha… Ada juga satu papan berisi berbagai macam mata uang. Saya yakin itu dari mahasiswa di language centre ini. Mahasiswanya memang berasal dari berbagai negara, seperti Cina, Vietnam, Thailand, Saudi Arabia, Irak, Iran, Qatar, Meksiko, Colombia, Mesir, Pakistan. Ada juga dari Indonesia. Jadi tidak heran, banyak interaksi budaya disini. Mata pelajaran “Cross Cultural Understanding” yang saya pelajari dulu bisa langsung terlihat disini. Sebagai guru, saya bisa dengan jelas mengetahui gaya belajar dan interaksi mahasiswa internasional saya. Sebagai individu, saya paham karakter bangsa-bangsa di dunia.

Saya kemudian membuat cappuccino yang tersedia gratis bagi staff. Ada kopi, susu, gula, teh dan air panas. Peralatan seperti gelas, sendok, piring dan mesin cuci otomatis juga tersedia. Ini sama seperti common room di dekat ruangan saya di Uni, baik sebagai student maupun sebagai asisten riset. Tidak ada yang tidak mencuci alat setelah digunakan, tidak ada yang mencuri barang-barang itu. Setelah membuat kopi, saya menuju meja dimana Raymond duduk. Ia sedang asyik menikmati burgernya. Sayapun mulai menyantap sandwich yang saya bawa. Sambil makan, kami mulai berbincang. Mulai hal-hal di tempat kerja sampai hobby. Ada dua hal menarik dari perbincangan kami.

Pertama, bagaimana ia memandang dunia ini. Baginya, dunia ini harus di jelajahi agar bisa membuka wawasan kita. Bisa dengan mengunjungi langsung atau mencari informasi dari bacaan atau media. Tentu dengan wawasan yang terbuka, kita bisa lebih luas melihat sesuatu. “Sudut pandang yang beragam itu sangat penting,” katanya menekankan. Sayapun sepakat. Saya termasuk orang yang percaya bahwa, misalnya, membaca itu membuat kita mau menulis. Tentu tidak otomatis prosesnya. Paling tidak, dengan membaca kita menjadi bisa lebih sadar akan keberadaan sesuatu, kemudian ingin mencari lebih banyak informasi – istilahnya kaya informasi. Tentu kita tidak ingin menjadi orang yang memandang sesuatu hanya dari sudut pandang terbatas atau sempit saja kan?

Hal lain yang ia sampaikan ke saya adalah mata hati. Wawasan yang lebih luas yang kita miliki hendaknya dijaga oleh mata hati. Kita bisa saja sangat tahu suatu hal namun jika tidak ada mata hati – nurani – yang menjaganya, apa yang kita ketahui itu menjadi tidak tepat atau tidak baik. Misalnya, kita punya kewenangan untuk menjalankan keuangan. Jika sistem tidak kuat namun mata hati kuat, rasanya sedikit muncul keinginan untuk korupsi. Di kelas, kadang ada mahasiswa internasional yang belum mengerti suatu konsep. Jika kita punya mata hati, kita akan terus berusaha memberikan jalan belajar yang memudahkan bagi mahasiswa itu. “Itulah passion mengajar tadi,” lanjut Raymond.

Tak terasa, waktu istirahat sudah akan habis. Perbincangan kami sepertinya masih on fire namun harus berhenti. Saya katakan padanya kalau saya salut dan belajar banyak darinya. Kemudian, dalam hati saya lanjutkan, ‘meski tidak sempurna, ada hal lain yang kau bisa sempurnakan, Ray’.

P.S. Tulisan ini saya buat untuk menyambut hari raya Galungan (dan Kuningan) yang kebetulan berbarengan dengan hari ulang tahun saya. Semoga jalan Dharma (kebaikan) selalu menerangi kita semua. Salam🙂

©mhsantosa (2013)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: