Mozaik-Mozaik Soft Skills dari Lembah Alam

Mendaki GunungKetika saya SD, SMP dan SMA, saya mengikuti berbagai kegiatan outdoor yang tersedia di sekolah saya. Saya mulai dari Praja Muda Karana (Pramuka), kemudian Palang Merah Remaja (PMR) dan selanjutnya, Pecinta Alam (PA). Tidak konsisten memang, tapi saya berusaha mengambil manfaat terbaik dari setiap kegiatan yang pernah saya ikuti tersebut. Di Pramuka, saya mulai belajar kemandirian. Saat itu saya masih kecil, masih SD. Jadi menjadi mandiri menurut saya sangat penting.

Saat mengikuti PMR, saya belajar teamwork – bekerja dalam kelompok. Saya harus bisa menolong orang lain dari perspektif medis dan pertolongan pertama. Saya harus bisa membalut tangan pasien yang patah, misalnya dengan teknik tertentu atau membuat tandu darurat dengan kawan-kawan dan menandu dengan benar. Yang paling menarik dan penting menurut saya adalah ketika saya terlibat organisasi Pecinta Alam. Saya belajar bertahan hidup.

Saya ingat, ketika mendaki Gunung Batur di Bali untuk ketiga kalinya, saya dan sahabat-sahabat “Lima Sekawan” – Kris, Putra, Yogi dan Rian – terpisah dari rombongan PA lain. Kami berangkat jam 3 dini hari agar bisa menembus puncak saat matahari terbit. Namun karena hari masih gelap tanpa sadar kami terpisah. Oleh sebuah jurang dalam. Kris dan saya biasanya membawa pisau komando. Kris membawa punya kakak iparnya dan saya membawa pisau ayah saya. Keduanya tentara. Karena kami terpisah sendirian, maka kamilah yang harus mencari jalan bertemu rombongan lain. Kompas ayah saya yang biasanya membantu tidak bisa berbuat banyak karena gelapnya malam. Terpaksa kami harus menggunakan insting, dan nyali. Kris menjatuhkan tongkat Pramuka ke sebuah lubang. Tidak terdengar suaranya. Senter kamipun tidak bisa menjangkau dalamnya lubang. Dengan nyalinya, Kris – yang memang sering bertindak sebagai ‘pemimpin’ kami, berkata,

“Aku akan coba turun.” Dengan bercanda ia lanjut berkata, “Jika kalian tidak mendengar suaraku, tolong sampaikan salamku ke pacarku, kawan.”

Kami tersenyum kecut. Masa muda. Tapi ini tentang bertaruh nyawa. Kami tidak pernah tahu seberapa dalam jurang ini. Kami tidak membawa tali yang cukup panjang. Dengan memerosotkan badan, bertumpu pada ransel ‘carrier’ yang ia bawa, Kris kemudian perlahan turun.

Sepi.

Kami mulai memanggil-manggil namanya.

Hening juga.

Kami sudah mulai khawatir.

Tiba-tiba terdengar suara pelan di bawah sana. “Ok, aku ok.”

Kami lega.

Ia kemudian menyuruh kami turun satu-persatu. Dimulai Yogi, Rian, saya dan Putra turun. Ketika saya turun, saya mengalami sensasi roller coaster karena ternyata saya tidak bisa menahan diri terperosok cepat ke bawah. Semua orang ternyata mengalaminya. Dan saat itu jujur saya merasa hilang nyawa. Untunglah, kami semua selamat. Mungkin ini perjalanan nekat. Kami kemudian menerabas lebatnya ranting-ranting di sepanjang jalan dengan pisau komando yang kami bawa (bukan jalan tepatnya, karena kami membuka jalan baru – istilahnya buka jalur). Beberapa saat kemudian kami harus naik kembali dibantu teman-teman PA yang terpisah sebelumnya.

Kami sadari kemudian ini pengalaman nyali dan survival skill. Sama ketika kami harus membuat bivouac – tenda (dome) untuk berkemah sementara – ketika menginap di pinggiran sungai penuh kunang-kunang menuju puncak gunung Lesung. Atau di pinggiran danau Beratan yang dingin, penuh pacet penghisap darah.

Catatan:
Dalam analogi bersekolah di konteks pendidikan Indonesia, penting sekali anak-anak generasi muda Indonesia diberikan pemahaman dan pelajaran ketrampilan hidup yang bukan hanya penjejalan pada konten dan bertumpu pada hasil (seperti Ujian Nasional saat ini) atau ranking-based. Menghafal dan bisa menjawab semua pertanyaan untuk mendapat nilai sempurna atau kemudian mendapat IPK tinggi tidak ada artinya jika tidak melengkapi diri sedini mungkin dengan kemampuan-kemampuan ‘lunak’ seperti berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, bekerja dalam tim, kepemimpinan dan lainnya.

Sumber gambar
©mhsantosa (2013)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Comments
5 Responses to “Mozaik-Mozaik Soft Skills dari Lembah Alam”
  1. indrihapsari says:

    Wah, track recordnya hampir sama dgn sy, kecuali sma sy msh berPMR ria. Kalau dulu Pramuka wajib, skrg sy mewajibkan anak2 utk ikut ekskul pramuka. Kapan lg anak2 dilatih ketrampilan dan kerja tim, krn di sekolah mrk sdh begitu individualisnya utk mencapai posisi tertinggi.

    Postingan yg menarik Bli, jadi nostalgia nih🙂

    • Made Hery Santosa says:

      Wah menarik Mbak Indri kalau sama. At least, bny ketrampilan yang masih bagus ada di kegiatan outdoor tersebut. Senang ada yang diajak nostalgia hehe.
      Salam

  2. Dan ternyata “kemampuan bertahan hidup” itu tidak ada dalam mata pelajaran di sekolah manapun. Semoga para orang tua dan generasi bangsa ini bisa menjadi generasi yang kritis dan jeli menghadapi tangtangan hidup yan ada.😀

    • Made Hery Santosa says:

      Benar Mbak Yessie. Semua ada dalam pendidikan keluarga dan kehidupan nyata sebenarnya. Sekolah tidak akan pernah bisa memberikan ini. Tapi ini tulisan kecil saja, banyak kawan yang mengalami hal lebih besar🙂

      Makasi udah mampir. Ditunggu tulisannya lagi hehe

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] jauh kemampuan bertahan hidup kita – istilahnya survival skill (baca tulisan saya tentang ini disini). Ia sebelumnya tinggal dengan orang tuanya sehingga tidak dipusingkan oleh kegiatan masak memasak […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: