Belajar Menjadi Peer Reviewer

Peer-Review-Nick-Kim-cartoon3-resizeSuatu malam, saya menerima DM (Direct Message) di twitter saya. Ternyata itu dari kawan saya, Maria, yang bekerja di sebuah Universitas ternama di Filipina. Saya bertemu dengannya di kota yang mengesankan, Ho Chi Minh, Vietnam ketika kami mempresentasikan paper di sebuah konferensi mengenai teknologi pendidikan. Setelah itu, kami tetap berhubungan sebagai bagian dari Personal Learning Network (PLN). Kami sering berdiskusi via twitter karena kami memang lebih aktif di media sosial ini. Bagi saya sendiri, banyak orang atau kawan yang bisa saya temui dan menjadi PLN hebat dari twitter.

Dalam DM-nya, Maria secara informal menyatakan maksudnya. Institusinya akan mengadakan sebuah konferensi internasional akhir tahun ini. Temanya e-learning, yang memang menjadi minat dan fokus bidang kajian saya. Saat itu adalah sedang masa Call for Papers, dimana calon-calon presenter mengajukan abstraknya (biasanya sekitar 250-300 kata ditambah 50 kata berisi biografi penulis) untuk diseleksi kelayakannya; disesuaikan dengan beberapa kategori, seperti relevansi, kemutakhiran, manfaat, dan lain-lain. Ini adalah sesuatu yang belum pernah (secara serius) saya lakukan. Karenanya saya iyakan tawaran Maria dengan senang hati. Dengan gembira, ia mengucapkan terima kasih atas bantuan saya. Ia menjelaskan kemudian bahwa koleganya akan menghubungi saya dan menjelaskan lebih lanjut proses melakukan peer review.

Beberapa saat kemudian, salah seorang kolega Maria bernama Cecilia menghubungi saya via email dan mengucapkan terima kasih atas kesediaan saya menjadi peer reviewer untuk abstrak paper yang harus diseleksi. Ada beberapa nama lain di email tersebut yang saya belum kenal. Tapi saya yakin mereka juga orang-orang yang punya kualitas tertentu sehingga dipilih melakukan pekerjaan ini. Cecilia kemudian mengatakan bahwa kegiatan review ini dilakukan dengan menggunakan suatu sistem bernama EasyChair. Ini adalah suatu conference management system yang ternyata lumayan berkembang saat ini. Karena hal baru, tentu saya perlu mempelajarinya dulu.

Kami semua diberikan beberapa minggu untuk memberikan pendapat akademik kami dan memutuskan apakah sebuah abstrak usulan bisa diterima atau tidak disertai alasannya. Karena berbagai kesibukan, saya baru kemudian sempat mengerjakannya di akhir waktu yang diberikan🙂. Seperti tadi saya sampaikan, semua proses review dilakukan melalui EasyChair yang baru saya ketahui. Karenanya, saya perlu beberapa waktu untuk memahami sistem kerjanya. Saya harus membuat account untuk bisa mengakses sistem ini. Kemudian saya harus memilih apakah akan menjadi ‘author’ atau ‘reviewer’. Karena peran yang saya lakukan sekarang adalah menjadi ‘reviewer’, maka saya memilih tautan yang kedua ini. Setelah saya memilihnya, saya kemudian dibawa ke beberapa usulan abstrak yang sebelumnya telah di-assign kepada saya untuk saya review.

Saya mendapat delapan usulan abstrak yang harus saya baca cepat dan putuskan apakah mereka layak atau tidak untuk dipresentasikan di konferensi ini. Untuk mengetahui relevansinya, saya harus membaca latar belakang dan tujuan konferensi yang dilakukan, kemudian menghubungkan dengan kekuatan dan kemutakhiran ide yang diajukan. Kebanyakan usulan abstrak ini berupa hasil penelitian, namun ada juga yang berupa library research. Harus diakui, ini merupakan tantangan yang mengasyikkan bagi saya. Saya membaca banyak ide baru yang bagus-bagus. Namun saya juga harus “jumpalitan” memahami beberapa usulan atau istilah-istilah yang ternyata sangat-sangat teknis – sangat berbasis komputer atau teknologi – tidak ada hubungan dengan social science seperti pendidikan. Istilah-istilah seperti virtual, MySQL, Java, AutoCAD, Animasi, RPG, sering saya dengar sebelumnya, namun tidak saya dalami. Bahasa-bahasa komputer dan logaritma beberapa kali muncul. Untuk itu, saya juga harus memahami konteksnya.

Dengan EasyChair, saya sebenarnya diberikan kesempatan untuk menolak melakukan review jika merasa tidak sempat atau tidak menguasai bidangnya. Si penulis (author) juga diberikan akses melihat hasil review ini untuk mempelajari bagian mana yang menyebabkan usulan mereka diterima atau ditolak. Saya coba berikan pendapat pada satu-persatu usulan makalah. Di EasyChair, saya sudah diberikan guidance dan pilihan-pilihan. Sampai pada bagian akhir dimana saya harus menjelaskan alasan menerima atau menolak. Utamanya, alasan menerima atau menolak sebuah usulan paper ini adalah kerunutan pola pikir riset, kejelasan penulis dalam mengungkapkan idenya dan manfaat yang bisa diberikan dari usulan tersebut. Untuk usulan yang saya baca, saya putuskan untuk tidak menolaknya karena prinsip riset terlihat jelas disana. Istilah yang teknis tidak menjadi suatu masalah karena ia hanya konteks saja. Namun, ada juga yang dengan catatan. Tentu saja, seperti menulis artikel di jurnal, ada peer lain yang melihat paper yang sama dan nanti hasil review-nya dicocokkan dengan keputusan saya. Dengan demikian, hasilnya menjadi lebih sahih. Seperti proses konferensi lainnya, abstrak-abstrak yang diterima kemudian diminta untuk menyiapkan paper yang lebih lengkap (bisa sebelum atau setelah kegiatan) atau bisa hanya makalah PowerPoint (Windows) atau Keynote (Mac) presentation saja. Yang bagus tentu yang meminta paper lengkap.

Saya bisa katakan bahwa pengalaman ini sangat menarik bagi saya. Meski saya tidak dibayar, hal ini memberi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar uang. Bagi saya, pengalaman jauh lebih penting. Sekedar joking, melihat nama saya terpampang sebagai reviewer saja sudah senang🙂. Saya paham sistem (efektif) sebuah konferensi atau kegiatan akademik sejenis dilakukan. Saya belajar memutuskan sebuah usulan makalah akademik yang memerlukan reasoning kuat secara ilmiah. Dan banyak lagi hal lain. Saya yakin, suatu saat, pengalaman dan ilmu sejenis seperti ini pasti akan memberi manfaat terbaik. Terima kasih sudah membaca kawan, semoga bermanfaat ya🙂

Sumber gambar

©mhsantosa (2013)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Comments
6 Responses to “Belajar Menjadi Peer Reviewer”
  1. Subhan Zein says:

    Saya juga senang ketika membaca nama ini : ‘Mr. Made Henry Santosa’ di sini: http://elearningph.weebly.com/committees.html

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] beruntung, selain pernah mereview abstrak conference paper untuk teman saya di De Salle University di Filipina, saya pernah diminta pendapat untuk artikel di jurnal PPIA. Mas Bagus, yang waktu itu masih sebagai […]

  2. […] otomatis juga tersedia. Ini sama seperti common room di dekat ruangan saya di Uni, baik sebagai student maupun sebagai asisten riset. Tidak ada yang tidak mencuci alat setelah digunakan, tidak ada yang […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: