Setengah-setengah

Saya sering heran dengan beberapa kejadian. Saya namai setengah-setengah.

Saat ini, yang sedang ngetren setiap hari di berbagai media adalah tentang sepak terjang Jokowi dan Ahok. Siapa yang tidak tercandu akan mereka, baik yang mendukung maupun yang mencemooh. Sayapun tidak pernah ketinggalan berita tentang mereka. Saya ingat bertemu Jokowi ketika beliau masih menjabat Walikota Solo. Ketika itu, beliau menjamu saya dan kawan-kawan peserta Konggres Linguistik Indonesia di rumah jabatannya. Ia sempat menjelaskan tentang perpindahan PKL di Solo juga. Dari sana, saya sudah mendapat kesan, beliau orang berintegritas. Ketika beliau bersama Ahok sekarang memimpin Jakarta, saya semakin bersemangat melihat bagaimana mereka berdua dengan cara yang berbeda tapi padu memajukan kota tersebut. Visinya jelas dan terukur. Caranya elegan. Dalam perjalanannya kemudian banyak resistensi, mulai dari isu rasisme, luar daerah atau dari penduduk, preman, Komnas HAM, persatuan ini dan itu. Saya berpendapat, hal ini terjadi karena kenyamanan orang-orang terusik. Cuma dalam hal ini, kenyamanan yang didapat secara ilegal. Ketika dibenturkan pada visi dan cara berbeda, biasanya akan muncul riak-riak ini. Perlawanannyapun, saya pikir, setengah-setengah.

Contoh lain yang menarik, ada kelompok orang yang memaksakan kehendaknya, biasanya mayoritas, ke kelompok lain. Contoh terbaru adanya beberapa anggota masyarakat di Sampang yang berbeda keyakinan di jaga polisi, disuruh bertobat dan menandatangani perpindahan keyakinan mereka. Saya pikir ini sudah menyentuh hal paling dasar, hak asasi. Sayangnya baik yang memaksa dan pemerintah dalam pandangan saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Sempit. Setengah-setengah.

Hal yang lingkupnya sedikit sempit, misalnya pada peluncuran pengumuman akan sebuah kesempatan. Sering sekali saya lihat ada pengumuman, misalnya lowongan pekerjaan dan sejenisnya yang kurang bersifat terbuka. Tidak disampaikan secara jelas. Orang sedikit sulit mengakses informasi. Alasannya mungkin untuk memudahkan proses seleksi. Namun, apakah kualitasnya menjadi bagus? Belum lagi kalau ada KKN. Ini gurita yang harus diputus pelan-pelan, bersama-sama. Kalau masih terus terjadi, itu namanya mencari kualitas setengah-setengah.

Dua hal terakhir ini agak mirip. Satu adalah korespondensi via email. Ketika mendapat email saya selalu berusaha membalas sesegera mungkin. Ini saya rasakan sudah menjadi bagian profesionalisme. Namun, sering sekali, balasan atau konfirmasi tidak saya dapatkan seperti ini. Di lain situasi, ketika berhadapan dengan pembimbing, dosen atau teman di luar negeri biasanya balasan atau respon atas balasan datang tidak sampai lima menit. Paling lama satu hari. Saya pikir ini bagian dari respek dan etiket. Bukannya ingin membanding-bandingkan, tapi ini namanya profesionalisme. Tidak setengah-setengah.

Contoh lain adalah di media sosial. Sering sekali ada entah kawan atau bahkan yang bukan kawan bertanya beberapa hal. Sebagai bagian courtesy, saya usahakan membalas. Yang mengherankan, tidak ada balasan kemudian.

Ini hanyalah beberapa contoh kecil saja. Sementara, saya namai setengah-setengah.

©mhsantosa (2013)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: