Rach, The Ring Bearer

Rach, The Ring Bearer

Rach, The Ring Bearer

Rachela beruntung diminta menjadi the ring bearer atau pembawa cincin pernikahan untuk Tante Yuyun, sahabat baik Manik, istri saya di Singapura baru-baru ini. Sebagai ayah, tentu saja saya bahagia sekaligus bangga. Rach, demikian kadang kami memanggilnya, adalah putri kami yang berumur 2 tahun 9 bulan. Ia lahir di musim dingin di The Women’s hospital di Parkville, Melbourne, mengikuti saya yang sedang studi. Dibantu oleh satu bidan bernama Kate dan satu mahasiswa praktek, ditemani oleh dua housemate kami, tante Tina dan tante Jenny, ia lahir setelah perjuangan 10 jam. Kami bersyukur ia sehat. Setelah enam bulan, ia dan Manik pulang ke Bali untuk upacara agama dan untuk sementara kami harus berpisah. Sebagai bagian dari suatu perjalanan, kadang hal ini terjadi. Meski demikian, kemajuan teknologi dan dukungan banyak pihak sudah pasti sangat membantu. Keluarga abad 21, kira-kira seperti itu🙂

Meski Rach masih kecil, saya salut akan keberaniannya. Ia harus sudah terbang dari Melbourne ke Bali ketika berumur enam bulan. Tidak rewel, seperti beberapa contoh orang lain yang anaknya menangis ketika berpergian dengan pesawat. Kunci dari ini adalah pada saat take off dan landing, karena disana biasanya telinga bayi akan lebih peka; berdengung. Karena masih bayi, tentu satu-satunya jalan untuk ekspresi atau meminta sesuatu hanya dengan menangis. Penting agar disiapkan alat penutup telinga dan/ atau menyusui bayi kita saat itu. Demikian juga kali ini. Ia beruntung sudah punya paspor di usia bayi, sesuatu yang ayah dan ibunya tidak punyai ketika kecil🙂. Ia sangat excited ketika diberitahu akan naik pesawat. Meski ia belum terlalu mengerti apa itu, dimana Singapura dan sebagainya, sebagai anak kecil, ia sah-sah saja bergembira.

Setelah menyiapkan segalanya, tiba hari keberangkatan. Manik dan Rachela bersama rombongan keluarga Yuyun berangkat dari Bali menuju Singapura. Ia bersemangat meski harus bangun jam tiga pagi. Di bandara, ia tampak tekun menyimak sekelilingnya. Ketika ia akhirnya bisa melihat pesawat, ia sangat antusias. Paling tidak, ia lebih bisa merekam hal ini ke dalam ingatannya dibanding ketika terbang sebelumnya. Di pesawat, Rach juga, diceritakan oleh ibunya, duduk manis. Bisa saja ia bangun dan bermain, namun demi kenyamanan semua orang, ia mau mendengar untuk duduk. ‘Berdiskusi’ adalah metode yang sering dipraktekkan oleh ibunya ke Rach. Ia kemudian memilih menggambar di kertas kosong yang disiapkan untuknya. Sesekali ia melihat ke kumpulan awan dari jendela tempat ia duduk. Ia senang bercerita dengan ibunya mengenai apa yang ia lihat. Penting sekali saya pikir untuk mengajarkan kemampuan mengobservasi dan mengekspresikan pendapat sendiri sebagai bagian dari pendidikan character values sejak dini. Dan kami termasuk yang percaya akan pentingnya hal ini.

Setelah mendarat, rombongan tersebut tinggal di sebuah residence yang memiliki kamar luas. Dan yang menyenangkan, ada sebuah playground di sebelah residence itu. Beberapa kali Rach dan dua keponakan Yuyun yang ikut berangkat, Raffi dan Rasyad, bermain di playground itu. Pemerintah negara ini sudah memikirkan masak-masak segala aspek kesejahteraan yang harus dinikmati secara fair oleh seluruh warganya. Tipikal negara (berwawasan) maju. Secara sederhana, ini adalah pengejawantahan sila ke 5 Pancasila, kalau di Indonesia. Masalah sudah terlaksana atau belum, saya rasa kita semua sudah bisa mendapat jawabannya.

Di hari pernikahan, Rach menggunakan dress bercorak ungu dengan bandana sewarna. Ini merupakan dress code, demikian diminta oleh yang punya acara. Sepatunya berwarna putih gading dengan pita di bagian atas depan. Konsep pernikahan saya lihat cukup sederhana namun tidak menghilangkan maknanya; sesuatu yang secara pribadi saya lebih sukai. Di hari pernikahan, Rach diminta berjalan di depan beriringan dengan mempelai membawa cincin yang nantinya akan dipakai oleh pengantin. Ia ditemani oleh Raffi, keponakan Yuyun yang juga tidak kalah beraninya sambil membawa rangkaian bunga. Tentu tidak mudah memberi tahu anak kecil untuk berjalan paling depan sambil membawa cincin pernikahan di suatu tempat berisi banyak orang berkegiatan formal seperti ini. Semua orang tampak senang, karena ia dan Raffi berhasil. Saya yakin, ini perlu keberanian dan tanggung jawab. Bagi Rach, ini tentu hanya sebagian kecil perjalanannya sebagai individu, yang mungkin belum terlalu ia sadari saat ini. Saya, yang hanya bisa melihat dari foto-foto dan mendengar cerita kali ini, sudah cukup bangga. Sejatinya saya bermaksud terbang ke Singapura juga, namun karena saya masih harus mengajar bahasa Indonesia di Indonesian Studies di LTU, saya terpaksa mengurungkan niat tersebut.

Meski ini terlihat sederhana, saya menyakini bahwa setiap cerita adalah sebuah mosaik refleksi. Dengan memberikan pengalaman ini, saya harap akan lebih mudah berkata kepada putri saya kelak bahwa banyak pengalaman menarik bisa didapat jika mau berani dan bertanggung jawab. Misalnya, ia belajar mandiri untuk naik lift, eskalator dan kereta. Atau, bisa memberikan pemahaman secara cerdas kepadanya akan wawasan global di kemudian hari. Ia suka mengamati orang-orang menyebrang dan mengerti bahwa gambar lampu hijau berarti boleh menyebrang sedang gambar orang lampu merah tidak. Atau lampu hijau yang bulat untuk mobil, bukan orang. Rupanya, apa yang sering ia lihat di buku-buku berbahasa Inggris yang tiap tahun saya kirimkan berkilo-kilo atau video-video dari kanal TV berbahasa Inggris bisa membantunya mengenali apa yang ada di kehidupan sekitarnya. Saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka terlalu berlebihan akan sesuatu, tapi ijinkanlah saya menceritakan pengalaman Rach ini🙂. Sederhana, saya berharap pengalaman-pengalaman ini menjadi mosaik-mosaik penuh nilai bagi Rach sebagai individu, sehingga bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri dan tentu saja, bagi khalayak yang lebih luas. Tulisan singkat ini, yang kelak bisa ia baca nanti, bisa jadi salah satu mosaik itu.

Rasyad, Rach and Raffi

Rasyad, Rach and Raffi

Tak lupa, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru buat mempelai. Semoga langgeng.

©mhsantosa (2013)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Comments
8 Responses to “Rach, The Ring Bearer”
  1. indrihapsari says:

    Oooh..anaknya tiga ya Bli? Anak saya sudah diupacarain 2 kali, tinggal yang wayangan yang belum ^_^

    • Made Hery Santosa says:

      Hi Mbak, nggak anakku baru 1, Rach saja, hehe. Rach sdh diupacarain jg. Ya, ga masalah, yg penting sehat kan? Semoga ya🙂

  2. Diah Respati says:

    Hai Rach , what a cute girl🙂 …… “mosaik-mosaik penuh nilai bagi Rach sebagai individu” what a great words from a great father. Happy family !!

  3. So proud for your girl ….., pengalaman masa kecil adalah pengalaman yg tidak akan mudah dilupakan😀

  4. EnnyVisioner says:

    (Y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: