Ohh No, Chargerku Hilang!

Do GoodEpisode #1
Saya baru saja pulang dari suburb library di dekat rumah saya. Hari itu sudah sore, sekitar jam 5. Karena hari Sabtu, saya tidak pergi ke kantor saya di Uni dan hanya menulis di tempat yang lebih dekat saja. Sampai di rumah, seperti biasa, saya rehat sebentar. Kadang menonton TV, kadang main bola di PSP, atau sekedar rebahan. Setelah satu jam, saya mandi dan membuat teh panas untuk melanjutkan pekerjaan saya. Saya membuka laptop dan melihat baterenya sudah low. Tangan sayapun merogoh ke dalam tas, namun alangkah terkejutnya saya mendapati kalau charger MacBook saya tidak ada!

Saya coba ingat-ingat. Karena saya tidak pergi kemana-mana selain ke library hari itu, saya yakin charger itu tertinggal disana. Saya sedikit panik. Library sudah tutup jadi tidak bisa di telpon. Besok, karena hari Minggu, library baru buka dari jam 1 siang. Untung saja, teman satu rumah saya punya charger sejenis sehingga saya masih bisa tetap bekerja.

Esok harinya, saya sudah bersiap. Saya bergegas keluar rumah. Jam masih menunjukkan pukul 11 siang. Saya akhirnya berbelok di Zaatar, suatu tempat ngopi yang selalu ramai di dekat library. Isinya memang kebanyakan orang-orang Timur Tengah. Makanannya sudah pasti juga begitu. Biasanya, pilihan bervariasi antara wrap cake, half-moon cake, pie, atau kue-kue yang super manis. Pilihan minumnya, seperti Capuccino, Moccacino, Latte, Chai, Green Tea, atau Hot Chocolate juga mirip dengan tempat-tempat ngopi lainnya, sebut saja Starbucks atau Michelle, atau Gloria Jean’s. Meski tidak benar-benar sama, ini hanya urusan cita rasa. Saya sendiri sih, oke-oke saja.

Setelah menikmati Macchiato dan cake yang saya pesan, saya segera menuju library. Entah mengapa, saya tidak terlalu cemas. Saya berusaha tenang dan berharap charger saya masih ada, meski jujur saja saya tidak 100% yakin. Library sudah buka dan saya langsung menuju tempat saya kemarin. Sudah tidak ada! Seorang cewek baru hendak duduk di meja itu.

Saya bertanya, “G’Day. Sorry to interrupt you. Have you seen a MacBook charger around this table?”

Dengan wajah menunjukkan prihatin yang tulus, ia menyahut, “Ohh, I am sorry to know that. Unfortunately, I haven’t. I’ve just came.”

Saya tersenyum, meski ia tidak tahu, ia cukup simpatik. Saya lanjut berkata, “It’s alright.”

Saya kemudian menuju information counter dan bertanya, “Hello. I forgot my MacBook charger yesterday. I wonder if you could help to check in the Lost and Found, please?”

Petugas ini tersenyum dan berkata, “Wait a minute, I’ll check it for ya.”

Saya tersenyum. Betatapun gelisahnya, saya tetap merasa diayomi; dilayani dengan baik. Petugas itu kemudian mencari ke bagian Lost and Found. Setelah beberapa laci ia buka, ia kemudian mengambil sebuah charger putih yang saya yakini adalah charger saya yang hilang.

Ia berkata, “I think this one is yours,” sambil tetap tersenyum ramah, meski saya tahu ia cukup sibuk.

Saya mengucapkan terima kasih. Kepada petugas ini, dan juga kepada orang yang mungkin menemukan dan menyerahkan ke petugas untuk disimpan. Saya senang, karena charger saya kembali. Saya senang saya tidak harus membeli charger seharga sekitar $80. Saya bahagia akan orang-orang yang baik dan sistem yang melayani ini. Saya yakin kebaikan-kebaikan ini akan mendapat balasan yang setimpal.

Episode #2
Saya sudah sampai rumah sekitar jam 8 malam setelah seharian sibuk mengajar bahasa Indonesia di Uni. Ya, selain kuliah, saya juga diberikan kesempatan menjadi tutor bahasa Indonesia di Humanities and Social Sciences Faculty di La Trobe University. Seperti biasa, saya mandi dan beristirahat sebentar sebelum lanjut kembali dengan pekerjaan saya menulis tesis. Setelah sejam, saya menuju meja belajar dan bersiap. Saya menghidupkan laptop. Setelah bekerja 1 jam, batere laptop menunjukkan kalau ia harus segera di-charge. Kembali saya merogoh isi tas saya dan terkejut (kedua kalinya!), mendapati charger tersebut tidak ada. Saya langsung ingat, benda putih itu ketinggalan di kelas terakhir tempat saya mengajar tadi sore.

Di LTU, setiap kelas berisi perangkat audio visual yang standby. Ada 1 buah proyektor LCD, ada 1 DVD player, dan sound system. Ada user manual yang jelas untuk para pengguna. Langkah-langkah tersebut harus benar sesuai urutannya, karena jika tidak, dipastikan alat tidak akan berfungsi. Semua alat tersebut dilindungi system keamanan memadai agar tidak hilang atau dirusak. Jika ada masalah, nomor technician sudah jelas ada untuk bisa dihubungi kapan saja. Sangat mendukung! Bagi para pengajar, penggunaan alat bantu mengajar ini sangat penting karena akan mendukung kegiatan belajar mengajar.

Waktu itu, karena sudah terpakai sejak pagi di kelas sebelumnya, saya harus men-charge laptop tersebut di kelas selanjutnya agar tetap bisa dipakai selama kelas berlangsung. Karena tempat colokan berada di belakang perangkat audio visual ini, saya harus menggesernya sedikit agar charger ini bisa masuk ke colokan. Seperti teman-teman tahu, charger MacBook bentuknya agak besar, sehingga tidak selalu bisa di setiap kondisi. Setelah selesai mengajar, tampaknya saya tidak ingat lagi akan charger itu. Mahasiswa kadang ada yang berdiskusi setelah jam pelajaran. Bertanya suatu konsep yang ia belum mengerti. Atau mungkin saja, saya memang lelah sehingga lupa.

Kembali, saya harus menunggu sampai besok untuk mengetahui apakah charger itu masih ada atau tidak. Kali ini, saya lebih cemas. Kenapa? Karena charger itu hilang di kelas, dimana tidak ada orang yang bertanggung jawab didalamnya. Juga, ada banyak orang yang memakai kelas itu dari berbagai jurusan. Jadi kemungkinan hilangnya lebih tinggi. Saya harus kembali meminjam charger teman saya di rumah untuk bisa bekerja. Esok harinya, saya bangun lebih pagi agar bisa lebih awal ke kelas kemarin tempat charger itu ketinggalan. Sesampainya di kampus, saya bergegas ke kelas tersebut namun mendapati kelas masih terpakai. Samar-samar saya dengar bahasa Prancis sedang di ajarkan disana. Saya tidak enak menggangu, meski sebenarnya sah-sah saja mengetuk dan masuk sebentar. Saya kemudian duduk di depan kantor teman saya yang kebetulan berada dekat kelas itu.

Satu jam saya harus menunggu. Beruntung, Long, teman saya dari Vietnam keluar kantornya dan kami sempat mengobrol sebentar. Saya kemudian lihat beberapa mahasiswa keluar kelas tersebut. Ketika saya buka, ternyata mereka sedang mengerjakan tes. Saya menutup kembali dan terpaksa harus menunggu di depan pintu kelas itu. Setelah beberapa orang keluar, saya beranikan meminta tolong kepada salah satu orang yang baru keluar.

“Hello, is the class finished already? I need your help to check my MacBook charger I left yesterday.”

Ia, seorang cewek cantik berkulit putih berbaju merah, berkata, “Oh just come in. I am the last and the lecturer is still in there.”

Sambil tersenyum, saya mengucapkan terima kasih. Saya membuka pintu dan melihat dosen pengajar memang masih ada di kelas. Ia tampak sibuk merapikan hasil jawaban mahasiswa.

Saya masuk dan berkata, “Sorry, I just want to check my charger I left after I finished teaching yesterday.”

Wanita ini, tampak ramah. “Ahh too bad. Is it still there?”

Saya langsung mengarahkan mata saya ke belakang perangkat audio visual dan tersenyum lega karena charger tersebut masih ada. Setelah mengucapkan terimakasih karena mengijinkan saya masuk ke kelasnya, saya kemudian keluar. Saya kemudian melangkah menuju kantor saya. Sudah dua kali saya lupa charger ini. Apa ini pertanda pikun?🙂 Mungkin saja. Atau memang saya harus lebih berhati-hati lagi nanti. Tuhan belum tentu bermurah hati di kali ketiga.

***

Apa sebenarnya yang bisa dipetik dari dua kejadian ini? Tentu saja, saya harus lebih berhati-hati. Namun hal lain yang ingin saya tunjukkan adalah, pertama, saya melihat bahwa mayoritas orang-orang cenderung memiliki nurani dan integritas yang baik. Mereka tahu, mengambil yang bukan haknya adalah suatu perbuatan tercela, bahkan termasuk kejahatan. Ini masalah nurani yang terusik. Dan mereka juga sadar, kejahatan berat hukumannya. Hukuman ini bisa fisik, ke penegak hukum, atau moral, ke Tuhan. Meski tidak semua orang memeluk suatu agama disini, saya merasa lebih nyaman dengan ketulusan ini. Apa adanya; penuh keterbukaan. Bukan kamuflase kemunafikan. Kedua, saya melihat, orang-orang selalu mengakomodasi dan melayani, tentu sesuai dengan deskripsi tugasnya/areanya. Hal ini bisa dilihat jelas jika seseorang tersebut sedang menggunakan atribut/seragam di area publik yang tugasnya untuk melayani publik. Meski tidak berseragampun, saya lihat sepanjang pengalaman saya, orang-orang sangat ringan tangan, tersenyum, dan membantu. Hal yang baik sekali. Seakan konsep melayani/membantu orang lain itu tertanam otomatis di jiwa dan raganya. Memang pasti akan ada orang-orang yang tidak seperti ini, tapi prosentasenya sedikit sekali. Ketiga, sesuai apa yang saya yakini, saya percaya karma; buah perbuatan. Sepanjang kita selalu berbuat baik, kebaikan akan selalu datang. Bisa di masa lalu, sekarang, atau masa yang akan datang. Saya yakin, ini adalah bagian dari perjalanan itu. Berbuat baiklah, karena kebaikan akan menghampiri orang-orang yang demikian.

Image Source

©mhsantosa (2013)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Comments
11 Responses to “Ohh No, Chargerku Hilang!”
  1. Resita Wulan says:

    semoga ada yang lebih banyak seperti itu di Uni saya🙂

    • Made Hery Santosa says:

      Terima kasih, penulis muda mau membaca tulisan sederhana seperti ini. Sebenarnya ada, cuman masih malu-malu🙂 Harus dibuat eksplisit jadi bisa lebih banyak yang mau.
      Slm

  2. widarishere says:

    fyi, I’m a man xD

    :p

    • Made Hery Santosa says:

      My bad! So sorry Mas/Pak Wida🙂
      I haven’t got anymore info about you. But thanks for visiting. I am happy to learn and share relevant thoughts with you.
      Cheers

  3. Berharap dan semoga masih banyak orang baik di manapun jg😀

    • Made Hery Santosa says:

      Ya bnr Mb Yes. Kita tetap harus baik apapun yg terjadi. Kl ada org lain yg baik, itu anugrah hehe.
      Selamat hari Sabtu!🙂

  4. indrihapsari says:

    Wow! Dengan ‘terpaksa’ saya harus menulis komen di sini. Salut benar dgn mrk, yg selalu menunjukkan empatinya pd mrk yg mengalami kesulitan. Dgn melakukan itu saja, rasanya separuh penderitaan kita sdh hilang, yeah, it costs $40 lah..hihihi…

    Tulisan yg bagus dan mencerahkan Pak🙂

    pak saran saja, sy jg pake MBA. Setiap selesai ngajar, yg sy bereskan lebih dulu pasti chargernya, br laptopnya. Smg dgn membalik prosedur ngga ketinggalan lg ya🙂

    • Made Hery Santosa says:

      Hehe, kok terpaksa. Tapi makasi ya udah baca. Bnr itu, hrs dibalik. Sy kepikiran kasi tali aja pas ngecas biar nyangkut terus haha.
      Have a good weekend Mbak Indri🙂

  5. indrihapsari says:

    Wow! Dengan ‘terpaksa’ saya harus menulis komen di sini. Salut benar dgn mrk, yg selalu menunjukkan empatinya pd mrk yg mengalami kesulitan. Dgn melakukan itu saja, rasanya separuh penderitaan kita sdh hilang, yeah, it costs $40 lah..hihihi…

    pak saran saja, sy jg pake MBA. Setiap selesai ngajar, yg sy bereskan lebih dulu pasti chargernya, br laptopnya. Smg dgn membalik prosedur ngga ketinggalan lg ya🙂

  6. widarishere says:

    We can, and should apply this in our life wherever we are, especially in Indonesia.

    • Made Hery Santosa says:

      Yes, we can as this marks what we are Bu/Mbak Wida. Thank you for reading. Have a good weekend🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: