Kisah Teropong Galileo, Palantir, dan Buku & Pedang di Universitas Leiden

Cerita ini adalah bagian terakhir dari Trilogi “Donna, Kelinci Ajaib” yang terdiri dari tiga bagian cerita dengan tokoh sentral Donna, seekor kelinci yang juga seorang kakek tua, semacam penyihir. Bagian 1 berjudul “Kelinci Ajaib dan Gadis Kecil” (sebelumnya “Ommi, Linous, Crosui, Canasi, Ki”). Bagian 2 berjudul “Aranes dan Telur Naga.” Bagian 3 berjudul “Kisah Teropong Galileo, Palantir, dan Buku & Pedang di Universitas Leiden.

Selamat membaca!

***

Galileo's Telescope, Palantir, Books & Sword

Galileo’s Telescope, Palantir, Books & Sword

Hari sudah gelap. Musim dingin kali ini terasa lebih dingin dari sebelumnya dan matahari jauh lebih cepat terggelam. Aku mematikan lampu dan menutup pintu kantorku. Seperti biasa, aku adalah orang terakhir yang pulang dari kantor ini. Caroline, temanku yang cantik, sudah lebih dulu pulang.

Aku menyusuri anak tangga menuju lantai 2. Udara dingin langsung menampar pipi kering ini. Untung, aku selalu menyiapkan syal dan topi kupluk serta selop tangan tebal sebagai antisipasi cuaca dingin ini. Sepanjang jalan, hanya suara angin yang aku dengar. Kutengadahkan kepalaku, bintang sepertinya enggan. Bulan purnama kali inipun tersaput kabut.

Ketika melewati jalan setapak di gedung Pusat Penelitian Bio-Research, mataku tak sengaja melihat 2 cahaya berpendar di kejauhan. Kadang berkedip. Semakin dekat, aku sadar, ia hanya seekor binatang. Namun, aku masih ragu, apa ia wallaby, sejenis kangguru tapi lebih kecil, atau kelinci yang besar. Tampak dua kuping lebar dan tinggi menjulang. Ia berhenti, sambil mengunyah, ia menatapku.

Aku seperti mengenalnya. Kelinci coklat ini tampak seperti Donna, kelinci yang pernah aku ceritakan sebelumnya (untuk lebih jelasnya, silahkan baca cerita ‘Kelinci Ajaib’ dan ‘Telur Naga’). Kali ini, ia seperti nyata.

“Engkau nyata,” kataku.

Ia tampak mengangguk. Aku tidak yakin. Tapi, kepalanya naik turun. Mulutnya terus mengunyah sesuatu, mungkin rumput.

***

“Dimana ini?” aku bertanya-tanya.

Mataku menatap sekeliling rumah yang temaram ini. Kubuka mataku lebih lebar lagi. Aku terbaring di lantai beralaskan karpet krem. Lantainya kayu berwarna coklat. Dindingnya seperti dari kayu juga. Ada rak berisi banyak buku tebal di kiri ruangan ini. Perapian di sebelah kananku memberi hangat yang membuat nyaman tubuhku. Di depan perapian, aku melihat seseorang duduk di kursi goyang, membelakangiku.

“Halo,” kataku. “Aku ada dimana?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

Orang itu diam saja. Namun ayunan kursi goyangnya berhenti.

“Mengapa aku ada disini?” tanyaku lagi.

Ia tampak melipat buku yang dibacanya kemudian ia bangkit dari kursi itu. Aku tersentak! Tampak wajah keriput berjanggut panjang. Ia tampak menyeramkan di ruangan yang temaram ini. Tongkat kayunya menjulang dihadapanku.

“Bangun,” katanya. Suaranya pelan, terdengar berat.

Aku bangkit dari tidurku, dan duduk di karpet krem sambil memeluk lututku.

“Ah!” Aku terkejut. “Kenapa kakiku?”

Kakiku, kini bengkok, berjumlah empat. Aku benar-benar tidak menyadari hal ini sebelumnya.

“Kenapa kakiku? Kau apakan kakiku?” tanyaku, setengah menuduh.

“Bukan aku yang membuat kakimu begitu,” sahut kakek itu.

“Lalu, mengapa ia menjadi seperti ini?” tanyaku. “Sebelumnya tidak begini!” aku histeris.

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu, engkau memilihnya sendiri” sahutnya.

Aku tak mengerti. Baru saja aku melihat seekor kelinci di pelataran parkir di jalan setapak menuju rumahku. Kini, aku berada di rumah kayu temaram ini.

“Dengar, aku tidak memilih apa-apa,” kataku. “Jadi, jangan membuat-buat sesuatu yang aku tidak lakukan,” kataku lagi.

“Dengar anak muda, aku tidak membuat-buat cerita,” katanya. “Sekarang,coba engkau berjalan ke arah rak buku itu,” lanjutnya.

Aku mencoba bangkit. Tertatih-tatih aku mencoba berjalan. Aku terhenyak. Aku tidak lagi berjalan tegak namun merangkak.

“Ya Tuhan, kenapa ini?” benakku berkecamuk.

Perlahan, aku bisa mencapai rak buku yang dimaksud.

“Sekarang, coba ambil buku tebal nomor dua dari kiri di rak paling bawah. Buku itu bersampul kulit rusa berwarna coklat,” kata kakek tua itu.

Aku mencoba mencari-cari buku yang dimaksud. Mataku tertumbuk pada satu buku berwarna coklat tua. Aku tahu, buku itu yang dimaksud. Aku kemudian menarik perlahan buku tebal itu. Namun, seiring tarikanku, sebuah gulungan perkamen ikut keluar. Warnanya coklat lusuh. Sekilas, aku melihat beberapa figur dan lingkaran.

“Apa ini?” aku mengeryitkan alis.

“Sudah kau temukan bukunya?” tanya kakek itu.

“Su, sudah,” kataku agak tersentak karena ia mengagetkanku.

“Bawa kesini,” katanya lagi. Aku menyelipkan gulungan perkamen itu di lengan baju panjangku, kemudian merangkat ke dekatnya.

Aku kemudian merangkak lagi, menuju kakek tua itu. Aku sodorkan buku tua itu kepadanya. Aku menunggu. Ternyata kakek tua itu hanya diam dan duduk kembali di kursi goyangnya. Sambil menghadap perapian, ia berguman sambil mebaca buku yang aku berikan. Akupun terdiam, tak tahu harus bagaimana. Dalam diam, aku mulai terusik oleh perkamen yang aku lihat tadi. Perlahan, aku merangkak menuju rak buku di dekatku. Kakek itu hanya menoleh sebentar, kemudian asyik membaca sambil berguman.

Hening aku rasakan. Hanya guman kakek itu sesekali aku dengar. Beberapa waktu kemudian, aku tidak lagi mendengar gumannya. Hanya dengkur halus memenuhi ruang temaram ini. Aku sedari tadi hanya memeluk kedua kakiku dengan tanganku, well, kini menjadi kakiku. Aku tidak berani juga tidak tahu harus berbuat apa ketika kakek itu masih terjaga. Sekarang ia tertidur, aku memberanikan diri untuk membaca perkamen yang aku ambil tadi. Sambil menikmati hangat perapian di ruangan ini, aku perlahan mengeluarkan gulungan perkamen tadi. Aku mencoba membuka gulungan tersebut. Pelan-pelan.

Perlahan, melihat beberapa garis, motif dan figur, semacam lambang. Ada tiga lambang yang ukurannya lebih besar dari garis dan motif lainnya. Aku merunduk, memperhatikan lambang tersebut, agar lebih seksama, satu-persatu.

Lambang pertama dari perkamen ini seperti pipa lonjong berukuran sekitar 30 sentimeter. Ujung satu dengan ujung lainnya berbeda ukuran, kecil dan lebih besar sepersekian sentimeter. Aku melihatnya seperti teropong sederhana. Sama sederhananya dengan teropong pertama buatan Galileo Galilei ketika mencoba mengamati Jupiter dan bulannya. Saat itu, di tahun 1909-1010, ia berhasil memperbesar objek angkasa sampai 30 kali dari aslinya. Tiap hari, ia mengamati fenomena  astronomi, termasuk Jupiter. Ia kemudian menemukan tiga benda bulat lainnya suatu malam, yang kemudian disebut satelit atau bulan. Di malam lainnya, ia menemukan empat. Begitu seterusnya. Ia kemudian sadar, bahwa benda-benda bulat kecil ini mengelilingi Jupiter yang lebih besar dari mereka. Ia menemukan kalau benda-benda kecil itu tertarik oleh sesuatu yang tidak kelihatan untuk tetap mengelilingi Jupiter. Akan ada suatu waktu, mereka tertutup oleh penglihatan (seperti fenomena gerhana). Itulah sebabnya kadang ia melihat hanya tiga bulan saja. Hal ini tentu saja hal biasa saat ini, namun ketika Galileo menemukannya, itu penemuan luar biasa. Sesuatu yang mendukung Copernicus, sesuatu yang juga mengusik kenyamanan pandangan orang-orang umumnya, utama pihak Gereja yang memiliki pengaruh kuat akan konsep “Semua yang ada diciptakan oleh dan atas kehendak Tuhan” (kemudian dikenal dengan konsep heliosentris versus geosentris).

Namun, bayanganku tentang teropong ini tidaklah sejauh itu. Tidak ada keterangan apa-apa di atas, bawah, dan sekitar lambang pertama ini. Aku belum paham. Aku melanjutkan pandanganku ke lambang kedua.

Lambang kedua ini berbentuk lingkaran, seperti iris, satu bagian mata. Ada satu lingkaran kecil di tengahnya, lebih hitam. Tentu saja ia tidak berwarna apa-apa, kecuali kecoklatan di perkamen lusuh ini. Tidak seperti iris yang bisa berwarna hijau, biru, coklat dan lainnya. Itulah sebabnya, bagian mata dinamai iris, mengambil nama dewi pelangi menurut orang Yunani kuno. Di bagian luarnya, terdapat beberapa corak berbeda-beda, kadang bulat, kadang garis.

“Apa ia Palantir?” gumanku.

Palantir adalah batu bulat magis imaginasi Tolkien. Salah satunya, Orthanc, adalah palantir yang digunakan oleh Saruman dalam karangan Lord of the Ring: The Two Towers untuk berkomunikasi dengan Sauron.

Sekali lagi, tidak ada keterangan lanjutan dari lambang ini. Hanya itu. Akupun hanya bisa meraba-raba, menginterpretasi. Akupun terdiam sesaat. Terdengar dengkur si kakek tua agak keras dari sebelumnya. Ia menggumankan sesuatu, namun aku tidak begitu jelas mendengarnya. Aku kemudian lanjut membuka gulungan perkamen ini. Ada lambang lain diujungnya.

Lambang ketiga ini menyerupai kotak-kotak kecil dalam jaring yang tergantung. Disampingnya ada benda pipih panjang dengan tangkai ada di bagian atas. Sama, tergantung juga. Benda-benda ini mirip dengan kumpulan buku dan pedang tergantung yang pernah aku lihat sebelumnya di Universitas Leiden, Belanda. Beragam buku dikumpulkan dan dijadikan satu dengan wadah jaring besar, kemudian digantung di langit-langit gedung. Disampingnya, sebuah pedang besar tergantung terbalik. Persis!

Namun, sekali lagi, aku tidak menemukan keterangan apa-apa di sekitar lambang ini. Aku mencoba membolak-balik perkamen lusuh ini. Mencoba menemukan sesuatu yang bisa membantuku memahami isi perkamen ini. Tapi, tidak satu keteranganpun aku bisa temukan. Aku coba mencari di sela-selanya, berharap sesuatu ada didalamnya, namun perkamen ini tidak punya celah.

Aku kembali menggulung perkamen itu dan memasukkannya ke kantung celanaku. Aku memutuskan untuk menyimpannya.

“Apa yang kau baca?” tiba-tiba, suara berat mengagetkanku. Kakek itu sudah bangun dan matanya tajam menatapku.

“Oh, ti.. tidak aaadaa,” jawabku, gemetar.

Kakek itu bangkit. “Tidak apa-apa, aku melihatmu memegang perkamen itu.” Ia beringsut, mendekatiku.

Akhirnya, aku mengeluarkan perkamen tadi. Aku menceritakan apa yang aku lihat dan pikirkan.

“Begitukah yang engkau pikir? tanyanya. Suaranya seperti melembut sedikit.

“Iya, begitu. Mungkin itu hanya interpretasi dari pengalamanku saja. Bisa saja kurang tepat. Bagaimana menurutmu, Kek? tanyaku.

“Oh, aku lebih tertarik dengan apa yang engkau artikan dari lambang-lambang itu. Aku ingin tahu lebih lanjut kenapa,” sahutnya, dengan senyum lebih manis kali ini.

Well,” kataku, “aku melihat lambang pertama sebagai teropong karena bentuknya memang seperti teropong menurutku. Aku menonton kisah Galileo dalam film dokumenter berjudul ‘Did God create the Universe?’ yang berisi pemikiran Stephen Hawking mengenai terjadinya alam semesta. Galileo dikisahkan meneropong Jupiter dan menemukan bulan-bulan tersebut berotasi pada Jupiter. Saat itu, temuannya termasuk menggegerkan pandangan bahwa bumi itu datar dan semua atas kehendak Tuhan, minim dasar ilmiah. Hingga ia harus dipenjara dan menderita karena pandangannya tersebut. Aku pikir, kadang kita harus melihat, mengindentifikasi sesuatu, agar lebih jelas menggunakan alat yang tidak biasanya.”

“Menarik sekali!” jerit kakek tua itu. “Aku tidak menyangka engkau memaknainya demikian. Jauh dari apa yang aku dulu pikirkan dulu,” sambungnya. “Bagaimana dengan lambang kedua?” tanyanya kemudian.

“Seperti aku ceritakan, lambang kedua itu aku lihat seperti iris, bagian mata. Dari bentuknya memang tidak mirip sekali, apalagi warna, karena memang lambang kedua itu tidak berwarna. Tapi aku berimajinasi kalau itu iris, yang bisa menampung cahaya, yang bisa berwarna berbeda-beda. Selain iris, palantir juga masuk ke benakku. Lebih pada fungsinya membantu melihat sesuatu yang jauh, yang tidak selalu tampak,” aku berbicara panjang lebar mengenai inpterpretasiku terhadap lambang kedua itu.

“Wow, sampai seperti itukah engkau melihatnya?” ia bertanya. “Aku dulu melihatnya berbeda sekali,” sambungnya.

Sudah dua kali kakek itu mengatakan “Dulu aku berpikir atau melihatnya berbeda.” Aku bertanya, “apa engkau pernah melihat perkamen ini sebelumnya, Kek?”

“Oh iya, beberapa tahun yang lalu. Waktu itu, aku menemukannya di dalam tongkat Oak yang aku pakai sekarang” katanya. Tapi sudahlah, aku ingin tahu bagaimana engkau melihat lambang ketiga itu.

“Lambang ketiga itu, mirip sekali dengan apa yang aku pernah lihat sebelumnya tergantung di salah satu gedung di Universitas Leiden di Belanda. Buku-buku dimasukkan dalam jaring kuat dan besar kemudian digantung. Benda pipih panjang itu juga mengingatkanku akan pedang besar yang tergantung di sebelah buku-buku tersebut. Waktu itu, aku senang sekali melihatnya, penuh estetika. Begitu akademis kesannya dalam bangunan kuno berarsitektur Eropa kental. Rasanya itu seperti tempat pencarian ilmu terindah. Dengan buku-buku (dan sumber lainnya) aku tahu kita bisa belajar, bisa berkontribusi. Dengan pedang, aku pikir kita bisa memilah, bisa mengasah, namun bukan membunuh,” tutupku.

“Wah, imaginasimu sungguh liar! Aku dulu tidak melihatnya demikian,” ia lagi menenekankan hal itu.

Aku terdiam sejenak. “Seperti yang aku bilang sebelumnya, Kek, apa yang aku lihat bisa saja berbeda dari orang lain. Kakek selalu bilang dulu tidak seperti itu. Kalau aku boleh tahu, seperti apakah dulu Kakek lihat lambang-lambang itu?” tanyaku.

“Oh, aku hanya melihatnya sebagai pipa air, bola, dan karung beras serta besi pengecek kualitas beras,” sahutnya.

“Kenapa begitu, Kek?” tanyaku.

“Ah, sudahlah, aku sudah lupa,” jawabnya, seperti membiarkan pandangannya terhadap lambang-lambang tersebut lepas, liar, dan penuh misteri. “Baiklah, aku mau melanjutkan tidurku,” lanjutnya lagi.

Ia berjalan ke dalam ruangan lain dan tak lama aku mendengar dengkur halusnya. Di sudut ruangan temaram ini, aku memeluk kembali erat kedua kakiku. Hangat perapian masih baik. Di luar sana, salju turun dengan lebat. Jalanan pasti tertutup salju tebal esok hari. Tak sadar, akupun tertidur karena kelelahan.

***

Aku tersentak. Seperti terbangun dari mimpi. Aku masih ada di jalan tadi melihat kelinci coklat itu di kejauhan. Ia menatapku, lama. Aku tertegun. Ia kemudian melompat-lompat menjauh, menuju pepohonan di belakang mobil-mobil yang parkir di tempat parkir nomor 3 ini. Aku sempat melihat ia melompat-lompat ketika sebuah bus lewat menghalangi pandanganku. Ia kemudian menghilang.

Sampai sekarang, aku belum mengerti arti lambang-lambang di perkamen itu. Mungkin saja itu kertas lusuh biasa yang tak bermakna apa-apa. Aku bisa saja membayangkan lambang-lambang tersebut sebagai teropong, mata, dan buku pedang saat ini. Namun, aku tidak mau membatasi arti dan makna dengan berhenti pada interpretasi sebelumnya. Seperti ayah Hugo dalam film Hugo, berkata “A mystery will always make you happy.” Aku tahu rasa ingin tahu akan membuatmu terus belajar dan berimaginasi. Bukankah Einstein berkata “The most important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing.”

Image Source: Galileo, Palantir, Books & Sword: ©Santosa Photography

©mhsantosa (2012)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Comments
One Response to “Kisah Teropong Galileo, Palantir, dan Buku & Pedang di Universitas Leiden”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Cerita ini adalah bagian terakhir dari Trilogi “Donna, Kelinci Ajaib” yang terdiri dari tiga bagian cerita dengan tokoh sentral Donna, seekor kelinci yang juga seorang kakek tua, semacam penyihir. …  […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: