Siapa Pewaris Semangat Kemerdekaan ini?

Today is the Indonesian Independence Day. I wrote a note to commemorate it. I am sorry that it is written in Indonesian. I just try to reflect on the celebration more meaningfully. Happy reading🙂

Merah Putih

Prolog
“Hai, bapakku tentara!”

Kalimat ini begitu sering saya dengar ketika kecil. Entah apa maksudnya, namun teman-teman sepermainan saya sering mengucapkan hal ini. Diucapkan ketika mereka merasa perlu memperoleh sesuatu, atau terancam. Saya sendiri merasa ucapan itu tidak pantas digunakan untuk hal-hal demikian.

Saya adalah anak lelaki pertama dari seorang yang purnawirawan TNI AD dan ibu yang mantan perawat kesehatan. Sejak kecil, saya sangat terbiasa mendengar kata nasionalisme didengungkan di konteks keluarga saya. Meski kakak perempuan, saya dan adik laki-laki saya semua menjadi guru, orang tua saya tidak pernah memaksa atau mengeluh kenapa tidak ada satupun dari kami yang mengikuti jejak Ayah menjadi tentara. Tentu saja, kami punya alasan dan mereka mengerti.

Setiap hari-hari nasional, ayah selalu mendorong kami untuk memperingatinya. Paling tidak dengan mengibarkan bendera merah putih di depan rumah kami di gang kecil di Singaraja, Bali. Sampai saat ini. Bahkan ketika tidak ada satu rumah yang mengibarkan bendera sekalipun, ayah akan tetap semangat memancang pipa besi PDAM bekas sebagai tiang bendera. Apalagi ketika peringatan hari TNI, jangan ditanya lagi.

“Ini bukan sembarangan. Ini untuk kalian,” kata Ayah.

Ya benar, ayah pernah menjadi salah satu prajurit yang dikirim ke Timor Timur (sekarang Timor Leste) sebagai bagian dari pasukan pembela tanah air. Ia selalu bercerita bagaimana ia dan teman-temannya harus berjuang di desingan peluru, atau sulitnya menangkap Xanana (waktu itu masih dianggap pemimpin pemberontak) meski sudah dikepung, atau ketika teman ayah harus menjadi kanibal karena kehabisan makanan di hutan. Meski akhirnya Timor Timur lepas dari pangkuan RI, perjuangan ayah dan teman-temannya tentu tidak main-main. Sama seriusnya ketika banyak prajurit yang kembali cacat. Sama mahalnya ketika para para istri prajurit yang sedang hamil muda menunggu suaminya pulang di pelabuhan namun tidak bertemu karena yang pulang hanya nama. Ketika itu, jangan berpikir komunikasi bisa selancar sekarang. Mereka hanya bisa kontak via surat yang datang sebulan kemudian. Itupun biasanya disensor oleh jajaran komandan terlebih dahulu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya tentu tidak bisa membayangkan hal tersebut namun saya bisa memahami semangatnya.

Sekarang, ayah menjadi bagian dari Veteran Nasional Indonesia. Seragamnya tidak lagi loreng dan baretnya tidak lagi hijau. Semua itu berganti warna coklat muda berpeci oranye menyala. Saya yakin, kemarin ia sudah menyetrika rapi pakaian upacaranya dan menyemir sepatu PDH-nya hingga mengkilat untuk digunakan pada upacara 17 Agustus hari ini.

Banyak orang mungkin saja menganggap para veteran ini kumpulan orang tua yang sudah tidak berguna. Namun, jangan salah, banyak dari mereka yang masih kuat fisiknya. Dan saya menjamin, nasionalisme mereka bisa jadi lebih tinggi dari kita semua yang lebih muda. Karena merekalah, Negara Indonesia ini ada. Karena mereka, saya dan teman-teman pembaca ini menikmati apa yang kita nikmati saat ini. Karena mereka, saya bisa menjadi seperti sekarang ini.

Memaknai Nasionalisme
Nasionalisme tentu bisa dilakukan dari mana saja. Entah itu di gang kecil, di halaman sekolah, atau di halaman konsuler. Ketika saya jauh dari rumah saya di gang kecil itu, saya menyempatkan diri untuk mengikuti upacara bendera peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Agustus di halaman Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, tempat saya menuntut ilmu sekarang. Hal ini tentu bukan sekedar saja.

Upacara Peringatan 17 Agustus 2012 – KJRI

Saya tentu masih punya semangat patriotisme yang ditularkan oleh ayah. Saya tentu masih nasionalis. Namun, menjadi nasionalis saja tidak cukup. Saya yakin teman-teman setuju bahwa kita harus juga menjadi suatu bagian penting dari Negara kita, Indonesia, dimanapun kita berada. Hal ini tentu memerlukan proses, yang bisa jadi tidak sebentar. Pertanyaannya, hendak jadi bagian yang manakah teman-teman? Itu bisa bermacam-macam. Saya sendiri memilih hendak menjadi bagian pelopor kepemimpinan berakhlak di area pendidikan (yang profesional). Tidak mudah memang. Saya sadari itu. Namun, bukankah hal itu harus dicoba, meski tidak banyak orang yang melakukannya.

Semangat ini tidak boleh memudar. Seperti api di Monumen Pahlawan di kota ini. Seperti api abadi di gunung Chymera, Turki, seperti panas abadi celah-celah tanah di Gunung Batur, Bali.

Saya bukan tentara. Saya bukan juga pejabat di lingkungan tertentu. Saya hanya seseorang yang belajar menjadi guru dan peneliti. Namun saya punya semangat kemerdekaan yang tidak kalah dengan yang lain. Saya memiliki hal itu karena satu hal. Ajaran ayah saya tentang nasionalisme. Karenanya, saya selalu bangga mengatakan, “Hai, bapakku tentara!”

Epilog
Saya sadar ini hanya refleksi pribadi. Jika saya mengatakan saya mewarisi semangat kemerdekaan dari ayah saya, teman-teman pasti punya pendapat dan pengalaman beragam. Apapun itu, mari kita bangun Indonesia yang lebih baik lagi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kita ini ‘belum’ merdeka. Masih banyak korupsi dimana-mana, masih banyak bromocorah berkeliaran, masih banyak rekan-rekan yang miskin, masih banyak juga yang tidak bersekolah. Jika kita ditanya, “Siapakah pewaris semangat kemerdekaan ini?” Saya yakin, teman-teman sudah tahu jawabannya. Mari, miliki warisan semangat kemerdekaan yang lalu, dan wariskan itu ke generasi kita sekarang dan masa depan. Kalau bukan kita, siapa lagi? Sebagai penyemangat, saya pajang lagu Indonesia Raya versi Pillharmonic Orchestra, London untuk Olimpiade London, 2012 yang baru saja selesai.

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka!

n.b. Tulisan ini saya tulis dalam bahasa Indonesia untuk memaknai peringatan hari kemerdekaan Indonesia lebih dalam (setidaknya bagi saya pribadi).

 

©mhsantosa (2012)
I am happy to share this. Please feel free to reblog or share the link, all with my accreditation. Thank you.

Comments
9 Responses to “Siapa Pewaris Semangat Kemerdekaan ini?”
  1. Bryan says:

    Mari Kita bersatu Tumpah Darah

  2. levin arianto says:

    mari kita bersatu

  3. Andi Arsana says:

    Terima kasih sudah menulis ini De Hery. Tidak mudah menemukan mereka yang muda, berkompetensi global tetapi masih mengharu biru ketika bicara nasionalisme. Indonesia kita memerlukan lebih banyak yang seperti ini!

    • Made Hery Santosa says:

      Terima kasih Bli Andi. Mari kita sama2 memberi yang terbaik bagi bangsa. Saya yakin, Bli juga adalah salah satu diantara serpihan-serpihan komponen muda lainnya yg punya dedikasi itu. Merdeka!

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] “Hai, bapakku tentara!” Kalimat ini begitu sering saya dengar ketika kecil. Entah apa maksudnya…   Please click the link above to continue reading. Thank you ^^  […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: