Mosaik Mata

Mosaik Mata

Mosaik #1

Dua orang ABG berusia belasan masuk ke bis ketika berhenti di sebuah mall cukup besar. Sayangnya, mereka tidak membawa atau membeli tiket agar bisa naik angkutan umum. Anak-anak ABG ini pernah melakukan hal yang sama sebelumnya, dan mereka bisa lolos. Waktu itu, supir bus sedang sibuk melayani penumpang lain yang hendak membeli tiket. Kali ini, supir bis tidak berkata apa-apa, namun tangannya memencet tombol memanggil petugas.

Dalam sekejap, tiga orang petugas datang dan memanggil kedua ABG tersebut.

“Did you buy the ticket?” tanya salah satu petugas.

Salah seorang ABG tersebut menjawab, “No.”

Seorang lagi hanya terdiam. Anak yang menjawab tersebut kemudian menuju ke bagian depan untuk membeli tiket dari supir. Anak yang satu lagi, berada di bagian pintu belakang, tetap terdiam. Mungkin ia juga tidak punya uang untuk membeli tiket.

“Do you know that when you do that, you don’t respect the passenger sitting next to you.” Petugas itu berkata dengan tegas.

Si anak – yang tampangnya agak bengal –  tetap terdiam. Namun, tanpa diduga, dengan cepat ia memencet tombol “Emergency Door Release” dan ketika pintu terbuka, ia secepat kilat melompat keluar sambil berteriak-teriak gembira. Petugas kesulitan menangkapnya karena terhalang oleh beberapa penumpang yang berdiri di depannya.

Temannya yang lain, hanya bisa memandanginya. Meski ia telah membeli tiket, ia tetap akan dikenai denda. Jumlahnya lumayan, kira-kira $100 – $200. Si anak yang berhasil keluar, memang berhasil lari, namun mungkin saja informasi akan dicari dari temannya yang masih tertahan di bis itu.

Mosaik #2

Di mall yang sama, beberapa orang tampak menunggu bis. Ada banyak bis berhenti di mall ini untuk mengantarkan penumpang ke berbagai jurusan. Saat bis yang ditunggu telah datang – meski telat beberapa menit –  sekitar 20 orang berjubel di pintu depan untuk masuk ke bis ini. Biasanya, para pria akan memberikan kesempatan orang tua, ibu hamil dan wanita untuk masuk terlebih dahulu. Karena ramai, seorang pria dengan dandanan necis, rambut berjelly tebal dan berkaca mata tampak menunggu antrian di belakang, dekat dengan pintu belakang bis ini. Memang setiap berhenti, bis akan membuka baik pintu depan dan pintu belakang untuk penumpang sebelumnya yang akan turun.

Supir bis tampak masih sibuk melayani penumpang lainnya yang membeli tiket sebelum naik bis. Dengan mengendap-endap, pria tadi kemudian dengan cepat masuk ke dalam bis melalui pintu belakang. Tentu tanpa tiket.

Mosaik #3

Di kali lain, tiga orang ABG berdiri di suatu halte bis. Supir bis ini kemudian berhenti. Satu orang ABG menghampiri supir bis dan membeli tiket. Satu orang lagi menempelkan kartu myki miliknya ke mesin pembaca myki. Menariknya, satu ABG lagi, dengan membelakangi supir yang sedang sibuk melayani temannya yang membeli tiket, dengan PD-nya berpura-pura menempelkan tangannya. Seakan-akan ia sedang touch on kartu myki yang ia punya. Semestinya, setiap orang yang menempelkan kartu, mesin akan berbunyi “beep.” Namun, karena supir sedang sibuk, ia tampaknya tidak menjadi awas.

Mosaik #4

Pagi ini seorang wanita paruh baya menyetop bis. Setelah supir menepikan kendaraannya, iapun masuk sambil memasukkan tiket yang ia bawa ke mesin pembaca tiket – bukan myki. Karena mesin berbunyi “tittt” – penanda bahwa ada masalah – supir meminta wanita itu menunjukkan kartunya. Ia yang sebelumnya sudah akan berjalan mencari tempat duduk, kemudian berbalik dan memberikan kartunya kepada supir.

“This is zone 2, you have to have a zone 1 ticket” supir berkata.

Wanita itu, tampak bingung, bertanya, “So?”

Supir bis dengan sedikit tersenyum berkata, “It’s up to you. You want to buy the ticket or not.”

Si wanita ini, tanpa berkata apa-apa berjalan duduk.

Menarik sekali.

Mosaik #5

Seorang bapak tampak gagah menggunakan baret masuk ke dalam bis. Ia membawa tas belanja dan menggunakan jaket yang agak tebal. Hari itu memang agak dingin. Ia kemudian touch on kartu myki miliknya. Bis ini kemudian melaju dan berhenti di setiap halte jika ada penumpang lain yang menunggu. Setelah kira-kira lima halte bis, bapak yang menggunakan baret tadi menuju pintu belakang dan touch off kartu mykinya sebagai tanda ia akan turun dan ‘membayar’ ongkos naik bis ini, dipotong langsung dari kartu myki tersebut.

Sejam kemudian, sampai stop terakhir bis ini, ternyata si bapak baru turun. Jauh dari waktu dan halte pemberhentian bis tempat ia touch off tadi.

Mosaik #6

Pagi ini, aku memutuskan turun di stop berbeda agar lebih banyak pilihan bis yang menuju kampusku. Ketika turun dari bis, seorang pria paruh baya yang tampangnya agak kacau langsung menyapaku.

“Hi mate, could you spare me some change?” Ia berkata sambil menunjukkan pecahan 20c yang ia miliki.

Aku berkata, “Sorry, I don’t have.”

Ia kemudian terus merayuku. Di halte ini, kebetulan hanya ia dan aku yang sedang menunggu bis selanjutnya.

“Could you please look and see if you have some small changes for me.”

Aku merasa kasihan dengan pria ini – kasihan dengan caranya. Tampangnya kacau, meski tampak sehat. Karena ia terus memaksa, akupun mengambil dompet kumpulan recehan yang aku miliki. Aku memberinya 20c, seperti yang ia minta.

Karena, mungkin, ia melihat ada beberapa receh di dompet itu, ia kemudian berkata, “Can you give me another dollar, please, for breakfast.” Hari memang masih pagi dan sudah saatnya memang orang makan pagi. Aku kemudian mengambil dua keeping 50c yang aku sodorkan ke pria itu.

Ia kemudian berkata, “Thank you, can you give me another dollar? This won’t be enough for me to buy a meal” katanya sambil menunjukkan recehan yang ia miliki. Aku kemudian mengambil kepingan $1 hanya berpikir agar ia cepat meninggalkanku.

Ia kemudian mengambil uang tersebut. Tapi, ia kemudian lanjut berkata, “Give me another $1 or $2 man, for lunch.”

Sampai detik ini, aku tegas berkata, “Sorry man, I gave you enough.”

Ia tetap berusaha merayuku. Namun aku bergeming.

Ia kemudian bilang bahwa ia tidak bekerja, karena sakit mental – setidaknya begitu menurut pengakuannya – namun ia diberi tunjangan oleh pemerintah tiap dua minggu sekali. Aku paham, orang macam apa pria ini. Meski telah dibantu, tampaknya ia tidak memanfaatkannya dengan baik.

Ia kemudian sibuk berjalan ke tengah jalan sambil menggerutu bahwa bis selalu terlambat. Menurut jadwal yang aku lihat, bis selanjutnya memang belum waktunya. Namun ia terus mondar mandir sambil berusaha menghentikan beberapa mobil meminta tumpangan karena ia telah terlambat, entah untuk urusan apa. Sangat berbahaya. Aku dengan diam tetap tenang menanggapinya sambil menunggu bis selanjutnya di tempat yang agak jauh dari pria ini.

Beberapa saat kemudian, bis datang. Aku silahkan ia masuk duluan. Ia kemudian menghampiri supir bis dan berkata, “I will get off in a few stops, mate.” Supir bis inipun mengiyakan, dengan sedikit malas. Aku kemudian menempelkan kartu myki dan mencari tempat duduk. Pria itu duduk beberapa baris kursi di depanku. Akupun mengambil buku untuk aku baca sambil mengisi waktu.

Setelah beberapa menit, pria ini uniknya meminta uang ke beberapa penumpang lain dengan modus yang sama.

Aku hanya tersenyum. Pria ini turun jauh dari halte tempat ia naik bis ini, berbeda dari apa yang ia katakan sebelumnya.

Comments
2 Responses to “Mosaik Mata”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] is Mosaic #3. Mosaic #1 can be read here and Mosaic #2 can be read […]

  2. […] is Mosaic #2. The first mosaic was written here (in Indonesian). It documented some interesting events that caught my […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: