Transformasi

“Transformasi itu, pada waktu yang tepat, penting.”

Transformasi

Waktu lalu, aku menulis tentang (bersepeda mencari) “Eidelweiss” dan “Sepeda Pinjaman.” Sepeda balap ringan itu telah hilang, tiada kabar lagi. Lain kali, mungkin akan aku engrave sepedaku agar ada nomer serinya sehingga kalau ada kejadian serupa akan lebih mudah dilacak.

Beberapa waktu lalu, sahabat baikku, menemukan sebuah sepeda ketika sedang asik mengamati tumpukan ‘sampah’ di sepanjang jalan-jalan. Kebetulan, beberapa waktu yang lalu, ada Hardwaste Collection Day. Pada waktu-waktu tertentu, setahun sekali, pihak Council akan mengambil barang-barang jenis hardwaste untuk dihancurkan atau di salurkan ke pihak-pihak yang memerlukan jika masih layak. Tentu, kalau ada barang-barang yang masih baik, tidak ada salahnya digunakan🙂 Sepeda ‘baru’ itu ternyata sepeda anak-anak🙂. Meski begitu, sepeda ‘kici’ ini, masih sangat layak. Ia berjenis BMX dengan kelengkapan sepeda minimal yang masih utuh dan baik, seperti bel, lampu depan, lampu belakang, lampu jari-jari ban, meski standar. Aku dan temanku kemudian mengatur sadel agar lebih tinggi dan setang agar kaki tidak terhalang ketika mengayuh pedal. Memang sedikit kecil rasanya, namun sepeda masih bagus. Aku hanya perlu membeli helm dan kunci sepeda, perlengkapan wajib standar lainnya, dan kalau perlu, membeli lampu depan dan belakang bertenaga baterai, karena sangat dianjurkan terutama ketika bersepeda di saat gelap atau malam hari. Tidak mau kejadian sebelumnya terulang, aku memarkir sepeda itu di dalam kamar hehe… Namun, aku agak kesusahan menggunakan sepeda itu. Karena ukurannya yang kecil, kakiku cepat capek dan pegal.

Akhirnya, aku coba mencari via internet, sepeda-sepeda bekas murah. Setelah sempat tertuda karena kesibukan, akhirnya aku berhasil menemukan sepeda yang lumayan baik. Setelah melihat deskripsinya, foto-foto terkait, aku putuskan untuk inspect sepeda itu. Untuk itu, aku harus datang sendiri, di suburb lain, meski tidak terlalu jauh. Aku hanya perlu naik kereta dua kali saja bolak balik. Itulah nyamannya, kemanapun, selalu ada cara atau jalan yang tersedia. Pemerintah ini sangat memperhatikan kenyamanan masyarakatnya.

Setelah melihat peta, aku menuju tempat Hubert, yang menjual sepeda bekas ini. Turun dari stasiun, akupun bertemu dengannya, setelah menghubunginya, agar tidak salah jalan. Ia mengajakku ke rumahnya, dan memperbaiki beberapa bagian juga menambahkan beberapa kelengkapan lain. Seperti yang ia katakan, ini hanya hobi, dari sepeda-sepeda yang dibuang, ia dengan tekun memperbaiki, sambil mengajari anak laki-lakinya. Tentu hobi ini mendatangkan kepuasan, selain hati, juga tambahan materi, yang layak menurutku sebagai jerih payahnya. Prinsip saling percaya juga penting. Ia menjamin kalau ada masalah, aku bisa menghubunginya kapan saja. Aku juga diberi helm dan kunci gratis, lampu depan dan lampu belakang bertenaga baterai dengan sedikit biaya, yang berselisih jauh dibanding yang di toko-toko sepeda. Setelah selesai, akupun kemudian kembali menuju stasiun kereta untuk pulang. Kebetulan memang diperbolehkan membawa sepeda di kereta.

Kalau dilihat, sepeda yang aku pernah gunakan selama ini telah ‘bertransformasi’ seperti foto-foto berikut:

Sepeda

Setelah ini, semoga sepedaku ga hilang lagi \,,/

“Transformasi itu, berjalan dengan masa, tidak berhenti.”

Comments
One Response to “Transformasi”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] ongkos perbaikan ban belakang saja, sudah hampir seharga sepedanya (catatan: sepeda secondhand dari belanja online). Cukup […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: