Renungan Saraswati: Galaksi Tanpa Batas

Dewi Saraswati

Hari ini adalah hari raya Saraswati, hari yang diperingati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan (dan seni) oleh umat Hindu di Bali. Hari raya ini diperingati setiap 210 hari sekali setiap Sabtu (Saniscara) Umanis (Legi), Watugunung (1). Secara filosofis, Saraswati berarti ucapan atau kata yang bermakna. Kata atau ucapan akan memberikan makna apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itulah yang akan menjadi dasar orang untuk menjadi manusia yang bijaksana. Kebijaksanaan merupakan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan. Kehidupan yang bahagia itulah yang akan mengantarkan atma kembali luluh dengan Brahman (Tuhan) (2).

Aku ingat setiap hari ini, aku dan seluruh keluargaku mengumpulkan buku-buku di taruh di atas meja di ruang tamu. Aku dan saudara-saudaraku asik mengumpulkan buku-buku pelajaran sedang Bapak dan Ibuku biasanya mengumpulkan buku-buku tentang upacara dan agama. Kemudian kami bersembahyang di sanggah, semacam pura kecil keluarga kami. Setelah itu, kami biasanya melaksanakan brata, entah tidak membaca dan menulis, dan/ atau puasa. Waktu aku kecil, banyak teman juga bertanya, “Kenapa justru di hari turunnya ilmu pengetahuan, kok malah ga membaca?” Hal ini menarik sebenarnya. Maksudku, kadang kita semacam diingatkan kembali akan perlunya memahami betul sesuatu sebelum melaksanakannya. Inilah yang disebut dengan filial piety, dimana kadang seseorang hanya mengikuti sesuatu karena ‘memang begitu adanya’ atau ‘terlalu percaya’ dengan orang lain yang dianggap memiliki otoritas (baik power, pengalaman, atau pengetahuan) yang lebih – meski belum tentu demikian. Artinya, tetap telaah mendalam (dan ilmiah) harus dikedepankan. Memang dalam ajaran Hindu disebutkan, “Bagi yang melaksanakan brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi (semacam tafakur/meditasi)” (2). Aku sendiri selalu berusaha menyikapinya secara terbuka dan universal. Berdoa sebagai rasa syukur atas pengetahuan yang diberikan sangat perlu, bahkan setiap hari. Dalam konteks keilmuan, pemanfaatan ilmu tersebut secara tepat guna akan lebih baik.

Keesokan harinya, yang dikenal dengan banyu pinaruh, semua banten, dan sesajen, termasuk bunga dan air kum-kuman (rendaman) kami bawa ke sumber air, entah sungai, atau pantai. Di hari ini, suasana sungai, dan umumnya pantai, sangat ramai. Orang-orang berdoa, kemudian menghanyutkan semua perlengkapan upacara Saraswati yang dibawa, setelah itu menyucikan diri, dengan mandi di pantai atau mencuci muka serta membasuh tangan dan kaki dengan air laut. Memang, kota tempat tinggalku sangat dekat dengan pantai sehingga orang mudah mencapainya. Intinya, kami membersihkan diri dari segala hal yang tidak baik dan berharap agar pengetahuan terus bisa diperoleh dan diamalkan sepanjang hayat.

Buku & Pedang

Hari ini, aku menjalani hariku seperti biasa, diselingi dengan mencuci pakaian dan mengeringkannya. Lumayan praktis, dengan bantuan mesin-mesin itu. Suhu yang agak dingin terus menyelimuti kamar ini. Mendung bergelayut di langit atas sana. Dalam doa, aku selalu berharap kedamaian bagi orang-orang di dunia. Dengan ilmu pengetahuan, aku berharap, orang-orang lebih bisa berpikir lebih rasional, lebih seimbang dalam menyikapi berbagai hal di dunia, dan lebih terbuka terhadap perbedaan. Aku suka sepenggal kalimat yang diucapkan seorang seniman dari Negara, Bali, Nanoq da Kansas, “Karena kita sudah sepakat berdemokrasi, maka sesungguhnya kita tak ada masalah dengan perbedaan.” Memang, aku sangat paham, tidaklah cukup menyandarkan diri pada ilmu pengetahuan semata, namun perlu ditunjang oleh hal-hal lain, misalnya ahlak. Selalu bersyukur dengan pengetahuan yang diberikan, baik itu datangnya dari konteks akademis maupun tidak, misalnya pengalaman. Penerapan yang tepat guna tentu lebih diharapkan. Jika aku ibaratkan, ilmu harus terus dicari, diasah hingga setajam pedang, namun tetap harus terukur dengan baik, untuk kebaikan semua orang. Karenanya, semoga dunia ini lebih baik.

“Mengasah diri, mengukur diri; tafakur di galaksi tanpa batas.”

Sumber:
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Saraswati_(hari_raya)
2. http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-saraswati.html
3. (a) Image Source & (b) Taken at Law Faculty, Leiden University.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: