Death Magnetic Tour: Perjalanan Panjang Bertemu Metallica

Adrenalinku terpacu lebih kencang dari biasanya ketika mengetahui Metallica akan menggelar konsernya yang kesekian kali di negeri kangguru ini tempatku menuntut ilmu sekarang. Aku segera mencari informasi mengenai tiket. Aku bernafas lega karena tiket masih dibuka sekitar 1 minggu lagi. Saat itu, yang baru dibuka hanya untuk semacam kelas spesial saja, dimana rasanya aku tidak berada di dalamnya.

Pada hari tiket dibuka, aku menjadi kecewa… Tiket terjual dan habis hanya dalam waktu 1 jam saja! Aku mencoba mencari di segala forum, namun yang ada tiket yang dijual kembali dengan harga gila-gilaan, 2 bahkan 3 kali lipat dari aslinya. Aku sudah lumayan frustrasi, sampai-sampai bertekad akan tetap datang meski hanya mendengar dari sebelah pagar stadion hehe…

Beruntung rasanya, sekitar sebulan kemudian, Metallica mengumumkan menambah beberapa show lagi karena membludaknya permintaan penggemar yang ingin menyaksikan mereka secara langsung. Dan aku pun dengan cepat memesan tiket agar aman.

Hari sudah temaram, angin berhembus sedikit kencang disertai gerimis yang dingin, aku memacu langkahku menuju tram yang akan mengangkutku ke tempat konser Metallica. Perjalanan terasa lancar dan akupun sampai di stasiun kereta. Aku harus mengambil tram lagi menuju ke Rod Laver Arena, tempat konser ini berlangsung. Dengan berdesak-desakkan, penumpangnya aku lihat memakai atribut hitam-hitam, atribut khas para pejuang metal… ahh jadi ingat masa-masa lalu …

Sesampainya di Rod Laver Arena, aku bersama ratusan orang lainnya segera bergegas menuju pintu masuk gedung. Sudah terasa aura pertunjukkan besar (dibanding konser-konser band lain yang aku pernah tonton). Ada tiga pintu yang aku harus lalui, semuanya dengan sistem yang jelas, ketat, namun fair. Pintu 1 mengecek barang bawaan dalam tas, dsb. Karena aku pernah mengalami diperiksa ketika menonton konser Helloween, Megadeth dan Slayer lalu, aku tidak membawa apa-apa, sehingga pintu 1 aku lalui dengan aman. Di pintu 2, orang sudah berbaris untuk memindai tiket masing-masing. Itu dilakukan sendiri-sendiri ketika masuk ke pintu 2. Karena aku yakin tiketku asli, maka pintu 2 pun aku lewati dengan disertai senyuman dan ucapan thank you dari petugasnya. Sangat ramah. Pintu 3 adalah pintu terakhir sebelum menuju panggung death magnetic Metallica. Aku menahan diri untuk tidak masuk terlebih dahulu. Aku memutuskan untuk berjalan mengelilingi gedung ini sambil mencari gate 9, tempat aku harus masuk. Ada banyak orang berkumpul, entah hanya mengobrol, membeli makanan, atau mengantre merchandise konser. Aku hanya melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan.

Sesampainya di gate 9, akupun bersiap masuk. Di pintu 3 ini, aku hanya perlu menunjukkan tiketku sekali lagi untuk kemudian dibantu mencari tempat dudukku. Aku takjub melihat tatanan panggung konser kali ini. Sangat berbeda dari konser band-band lain yang aku pernah tonton. Panggung tidak ditata dengan ‘konvensional’ dimana penonton melihat band beraksi di depan mereka dan sound system tidak disisi kanan dan kiri, drum tidak di tengah. Panggung Metallica ini ditata sedemikian rupa, dimana penonton dari berbagai sudut bisa melihat mereka. James Hetfield (vokal & rhythm guitar), Kirk Hammet (lead guitar), dan Robert Trujillo (bass) dengan aktif berpindah-pindah posisi untuk menyapa penonton di dekat mereka sedangkan Lars Ulrich (drum), dengan setingan tersendiri yang bisa diputar pada bagian waktu tertentu. Sound system ‘digantung’ diatas dengan lampu-lampu sorot yang memukau. Kualitas lampu dan suara yang dihasilkan benar-benar mantap di telinga. Tata lampu mulai dari laser dan lampu sorot yang cerah berwarna-warni bergantian siap menyorot panggung.

Konser ini dibuka oleh Fear Factory jam 8 malam, sebuah band beraliran death metal (sekarang cenderung industrial) menggeber lagu-lagu mereka. Grup yang digawangi oleh Burton C. Bell (vokal), Dino Cazares (guitar), Byron Stroud (bass), dan Gene Hoglan (drum) ini menghentak penonton. Ada yang sudah mulai headbanging, memutar-mutar kepalanya padahal acara baru saja mulai. Aku jujur dulu saja pernah mendengar Fear Factory, dan aku hanya ingat satu lagu mereka yang berjudul Martyr. Lagu yang diambil dari album Soul of a New Machine (1992) ini masih sedashyat awal-awal aku dengar versi studionya di radio lokal di rumahku di Bali (kemudian aku bisa mengoleksi album ini dari seorang teman dari Jerman). Penampilan mereka cukup ‘mengguncang’ juga. Vokalnya cukup kuat, bisa growl dan clean, yang merupakan ciri khas Fear Factory. Sayang, suaranya agak hilang kadang-kadang ketika berinteraksi dengan penonton. Sebenarnya konser ini akan dibuka oleh band lainnya beraliran doom metal bernama The Sword, namun aku tidak tahu mereka tidak muncul. Pikiranku, mungkin saja mereka akan tampil di hari lain mengingat Metallica konser selama 4 hari disini.

Panggung kemudian kosong. Para kru mulai dengan sigap mengatur panggung lagi. Uniknya, penonton bisa melihat para kru bekerja untuk menata panggung, tidak seperti konser-konser lainnya dimana suasana biasanya gelap. Jadi aku bisa melihat sound system yang digunakan sebelumnya oleh Fear Factory disingkirkan sehingga panggung menjadi lebih luas. Ada 4 orang kru bertubuh kecil yang naik ke atas dan ternyata diam disana khusus untuk mengatur lampu sorot. Yang megah menurutku adalah adanya 4 buah robotic coffin berisi lampu-lampu sorot yang bisa bergerak dan berputar acak pada saat tertentu. Setelah kira-kira setengah jam menunggu, para penonton mulai tidak sabar. Dengan serunya, kami semua membuat mexican wave yang berputar mengelilingi stadion yang berkapasitas 15.000 orang tersebut – semuanya terisi penuh karena tiketnya terjual semua. Suara riuh rendah, teriakan membahana di stadion itu. Setelah melakukan mexican wave, kami mulai memanggil-manggil Metallica.

Akhirnya, ‘himne’ Ectasy of Gold, sebuah cover song dari Ernie Morricone terdengar, sebagai tanda konser akbar ini akan dimulai. Kami mulai bernyanyi bersama. Saat itu, aku teringat, bahwa Metallica-lah yang membuatku menyukai dan berkelana mengeksplorasi berbagai jenis musik metal sampai saat ini. Delapan belas tahun yang lalu aku mengenal Metallica melalui album Master of Puppets yang aku pinjam dari seorang teman. Kaset itulah yang membuatku berkelana memahami aliran-aliran dan band-band pengusungnya. Waktu itu, aku bergerak ke Megadeth, Slayer, Anthrax, Pantera, Scorpions, Iron Maiden, kemudian ke Sepultura, Obituary, menuju Atrocity, kemudian Napalm Death, Suffocation, Cannibal Corpse, Carcass. Aku tidak berhenti berkelana ke Darkthrone, Cradle of Filth, Dimmu Borgir, Emperor, juga ke Dismal Euphony, Within Temptation, Nightwish, Haggard, Helloween, Gamma Ray, Blind Guardian, Edguy, Stratovarius, sampai ke band-band baru seperti Rhapsody of Fire, Kamelot, Luca Turilli, Turisas, Koorpiklani, Sound Horizon, dan banyak lagi, utamanya yang melodic/symphonic. Sebuah perjalanan cukup panjang untuk bermusik, dan khususnya bertemu Metallica secara langsung.

Kembali ke Metallica, aku sendiri, sembari bernyanyi, bertanya dalam hati, lagu apa yang akan dipakai untuk membuka konser ini. Jika di konser S&M ‘himne’ ini dilanjutkan dengan lagu The Call of Ktulu & Master of Puppets atau ketika konser di Nimes dengan Blackened dan Creeping Death. Aku tersentak ketika Metallica ternyata membuka konsernya dengan That Was Just Your Life, lagu pembuka dari album terbaru mereka Death Magnetic. Hal ini seakan menyadarkanku bahwa sekarang bukan jaman-jaman ‘Creeping Death atau Black Album’ lagi.

Lagu tersebut dilanjutkan dengan The End of the Line dengan tata lampu laser yang memukau. Lagu For Whom the Bells Tolls membuat semua penonton berteriak padu karena lagu ini merupakan salah satu classic set list yang wajib dimainkan. Yang menakjubkan adalah lampu-lampu yang ditata di robotic coffin yang mulai bergerak acak, turun ke bawah, dan sesekali berputar. Menakjubkan….

Satu-persatu, lagu-lagu klasik dan baru digeber, seperti Blackened, Sad but True, Master of Puppets, Sanitarium, One, Fade to Black, Enter Sandman. Ketika lagu Nothing Else Matters dimainkan, Heitfield memetik gitar akustik dengan jernih diiringi oleh petikan gitar Hammet. Di setiap lagu tersebut semua penonton tidak henti-hentinya bernyanyi bersama, terutama ketika Heitfield sengaja memberikan lagu minus vokal sehingga kami bisa mengisinya…. Khusus di lagu Enter Sandman, aku tidak sengaja teringat lagu Countdown to Extinction milik Megadeth yang memang pada watu itu hampir bersamaan dikeluarkan, berikut dengan ‘persaingan’ antara Hetfield dan Mustaine (eks-gitaris Metallica). Namun, Megadeth tetap konsisten kencang seperti yang aku saksikan di konser mereka sebelumnya (kalau ada waktu, akan aku ceritakan juga konser Megadeth – bersama Slayer yang aku tonton tahun lalu). Lagu Am I Evil (cover song Diamond Head, dinyanyikan untuk mengenang almarhum James Dio yang baru saja meninggal – dinyanyikan juga di konser sebelumnya oleh the Big 4 of Thrash: Metallica, Megadeth, Slayer, dan Anthrax).

Di setiap lagu, Hetfield mampu membakar emosi penonton untuk terus bernyanyi sambil terus berpindah-pindah di setiap sudut panggung. Vokalnya masih mampu menyanyikan lagu-lagu lama, namun sudah agak meninggi. Tampaknya faktor usia tidak bisa dipungkiri. Hammet, dengan gayanya yang kalem, namun tetap membawakan gitar dan melodi-melodi cadas dan maut. Trujillo, bassis pengganti Jason Newsted ini tetap dengan gayanya yang seperti pemain basket dan maaf, simpanse (menurutku), tapi berterima di fans Metallica. Ia melanjutkan tugas Newsted sebagai backing vocal namun tampaknya menurut pandanganku, vokalnya kurang kuat – cenderung growl, sehingga harus dibantu oleh Hammet (tidak seperti Newsted yang menurutku, mampu ‘mengimbangi’ vokal Hetfield, bahkan sering dulu ia menyanyikan 1 bait lagu Creeping Death/Whiplash). Lars, dengan gayanya yang sering keluar ‘sarang’ memuntahkan air sebagai bentuk interaksinya dengan penonton. Ia merupakan salah satu pioneer pemain drum untuk aliran ini aku pikir, meski tidak banyak menggunakan double bass drum, seperti yang, misalnya ketika Dave Lambardo (drummer Slayer) lakukan pada lagu Battery dahulu. Namun, saat double bass, permainan Lars tidak bisa dianggap remeh juga. Aku bersyukur akhirnya bisa melihat salah satu pemain drum idolaku.

Sepanjang konser itu, semua penonton tidak henti-henti dan habis-habisnya berteriak, bernyanyi, dan mengacungkan tiga jari. Disamping kananku, seseorang yang tampaknya lebih ‘beraliran lagu Metallica klasik’ tidak henti-hentinya meninju-ninju kanan kiri setiap ia bernyanyi.. Cukup menghibur juga… Disamping kiriku, seseorang yang masih muda, dengan tindik di atas mata kirinya dan tato di lengannya, tampaknya ‘beraliran lagu-lagu setelah Black Album’, sangat semangat dan kompak bernyanyi denganku, meski kami tidak saling mengenal.

Konser itu ditutup oleh lagu Seek and Destroy, sebuah lagu klasik dari album awal mereka, Kill’em All. Yang cukup mengejutkan, kami seketika itu juga ‘dihujani’ oleh balon-balon hitam berisi tulisan Metallica, datang dari setiap celah atas stadion. Kami menggapai-gapai berusaha mengambil balon itu, namun susah juga. Beberapa orang bisa mendapat balon tersebut, banyak yang tidak. Personil Metallica sibuk bermain sambil menendang-nendang balon itu ke arah penonton.

Akhirnya, konser selesai, meski kami semua masih meminta mereka bermain terus. Hetfield berkeliling panggung mengucapkan terima kasihnya dengan menyilangkan kepalan tangan di dadanya. Hammet dan Trujillo berkeliling panggung dengan arah yang berbeda sambil membagi-bagikan pick gitar. Sedangkan Lars dengan gayanya yang terus menjulurkan lidah sambil membagi-bagikan stik drum hitamnya ke penonton. Kamipun beringsut perlahan-lahan dari panggung spektakuler ini. Aku cukup puas, meski rasanya masih ada yang belum lengkap. Mungkin karena mereka melewatkan tembang-tembang cadas yang menurutku wajib, seperti Creeping Death, The Unforgiven, dan Battery. Tapi, above all, penampilan mereka tetap maut seperti tahun-tahun 90an lalu.

Akupun pulang dengan menembus malam yang dingin. Berlomba mencari tram agar tidak ketinggalan karena selalu penuh (teringat ketika menonton pertandingan tenis dahulu). Namun kali ini, aku langsung bisa naik ke tram dan menuju stasiun kereta. Sambil menunggu tram lainnya yang menuju rumahku, aku duduk di halte. Dua orang muda yang rasanya berasal dari Asia sibuk berciuman di depanku, mungkin untuk mengusir dinginnya malam.  Tram tujuan rumahku pun datang beberapa menit kemudian, dan akupun berjalan menembus dingin dini hari. Aku tersenyum menjejak optimisme…

Concert Set List:

  • That Was Just Your Life (from Death Magnetic, 2008)
  • The End of the Line (from Death Magnetic, 2008)
  • For Whom the Bell Tolls (from Ride the Lightning, 1984)
  • Fuel (from ReLoad, 1997)
  • Fade To Black (from Ride the Lightning, 1984)
  • Broken, Beat and Scarred (from Death Magnetic, 2008)
  • No Remorse (from Kill ‘Em All, 1983)
  • Sad but True (from Metallica, 1991)
  • Welcome Home (Sanitarium) (from Master of Puppets, 1986)
  • All Nightmares Long (from Death Magnetic, 2008)
  • One (from … And Justice for All, 1988)
  • Master of Puppets (from Master of Puppets, 1986)
  • Blackened (from … And Justice for All, 1988)
  • Nothing Else Matters (from Metallica, 1991)
  • Enter Sandman (from Metallica, 1991)
  • Am I Evil? (Diamond Head cover)
  • Whiplash (from Kill ‘Em All, 1983)
  • Seek & Destroy (from Kill ‘Em All, 1983)
P.S. Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana
Comments
3 Responses to “Death Magnetic Tour: Perjalanan Panjang Bertemu Metallica”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] orang berpakaian hitam-hitam di bioskop. Rasanya fully booked. Hanya saja, tidak seperti ketika menonton konser mereka tahun 2010 lalu, perasaan saya sedikit aneh karena tidak menonton personelnya langsung melainkan melalui layar […]

  2. […] These photos below, however, were taken from the Death Magnetic Tour (2010) in Rod Laver Arena, Melbourne. I have written a post earlier about my experience watching them (in Bahasa Indonesia) entitled “Death Magnetic Tour: Perjalanan Panjang Bertemu Metallica.” […]

  3. […] profound passion on music. “Power Metal Indonesia: Ada Plagiarisme dalam Karya Mereka?” and “Death Magnetic Tour: Perjalanan Panjang bertemu Metallica” (both written in Indonesian) were previously posted. Additionally, being the supervisor of music […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: