Media

These are some media coverage throughout my career journey. Just to keep something small to cherish later on.

Media Coverage on Visi Magazine (2016)

Visi Magazine 2016

Visi Magazine 2016 Cover


Media Coverage on The Splash (January 2015)

The Splash 2014

The Splash 2014 Cover


Tribun


Tribun 3


Tribun 2


Liputan Pelita Harapan Negeri (Pelangi) di SDN 1 Batununggul, Nusa Penida
Komunitas Bali Edukasi Ajarkan Bahasa Inggris, Jepang dan Perancis ke Pelosok Bali

bali-edukasi_20151126_173033

Link: http://bali.tribunnews.com/2015/11/26/komunitas-bali-edukasi-ajarkan-bahasa-inggris-jepang-dan-perancis-ke-pelosok-bali

Untuk arsip, saya kopi beritanya:

Kamis, 26 November 2015 17:30

Laporan Wartawan Tribun Bali, Luh De Dwi Jayanthi

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Komunitas Bali Edukasi kembali memberikan warna-warni pendidikan melalui Pelangi (Pelita Harapan Negeri).

Berbekal motto “Menyalakan Peradaban Anak-anak Bali”, Bali Edukasi telah melakukan 12 aksi pendidikan di pelosok Bali.

Beberapa waktu lalu, komunitas yang berdiri sejak enam bulan lalu ini berangkat ke Nusa Penida, Klungkung dan Desa Bengkala, Kubutambahan, Buleleng.

Relawan dari komunitas ini berbagi pengetahuan mengenai Bahasa Inggris, Jepang dan Perancis.

Putu Irma Wulandari, relawan Bali Edukasi berangkat menuju Nusa Penida bersama tim sekitar pukul 06.30 Wita.

Ia menuju Sekolah Dasar Negeri 1 Batununggul, Nusa Penida, Klungkung.

Adapun materi yang disampaikan mengenai pengenalan Bahasa Inggris, Jepang dan Prancis.

“Kelas 4, 5 dan 6 kami gabung dan bentuk kelompok untuk belajar ketiga bahasa itu. Saya tidak menyangka daya tangkap mereka sangat kuat, saya menjadi senang,” tutur Irma yang mengajar Bahasa Prancis ini, Rabu (25/11/2015).

Lain halnya dengan kelas 1,2 dan 3 yang mana siswa-siswi diberikan pengenalan mengenai makanan dan minuman yang sehat.

“Kami buat sebuah media seperti mading yang berisikan gambar makanan dan minuman yang sehat. Lalu diselingi juga dengan permainan yang berkaitan dengan itu,” ucap Irma.

Untuk memberikan pengetahuan tentang kesehatan, tim relawan Bali Edukasi juga memberikan materi tentang bagaimana mencuci tangan yang baik dan benar.

“Ini kami lakukan mengingat siswa-siswi itu harus mengetahui cara untuk menjaga kesehatan mulai dari memilih makanan dan berprilaku bersih,” ucapnya.

Julisastrawan, relawan Bali Edukasi mengatakan kegiatan rutin khusus dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 2 Bengkala.

“Itu karena satu-satunya sekolah dasar inklusi di Bali. Kami mengajar Bahasa Inggris saja di sana,” ungkap Julisastrawan yang akrab disapa Pegok ini.

Dalam menyampaikan materi, Pegok dan kawan-kawan Bali Edukasi dibantu oleh Kanta beserta guru untuk menerjemahkan ke bahasa isyarat Desa Bengkala (bahasa ibu Desa Bengkala).

“Uniknya di sana, siswa tuli bisu gabung belajar dengan anak normal lainnya,” imbuhnya.

“Kesulitan yang kami hadapi itu saat main game. Nah banyak instruksi dengan kosakata berbeda-beda. Tapi untungnya semua berjalan lancar,” tuturnya.

Topik yang dibahas saat belajar Bahasa Inggris itu seperti benda yang berada di sekitar sekolah, olahraga dan jenis-jenis pekerjaan.

Khusus di Desa Bengkala ini kami lakukan kegiatan secara reguler mengingat ini merupakan sekolah inklusi yang memang butuh perhatian khusus untuk memaksimalkan pengabdian kami. (*)


Liputan Pelita Harapan Negeri (Pelangi) di SDN 1 Pitra, Tabanan
Belajar Dengan Cara Kreatif Bersama Komunitas Bali Edukasi

imagecontent

Link: http://www.semetonnews.com/post/read/138/belajar-dengan-cara-krearif-bersama-bersama-yayasan-bali-edukasi

Untuk arsip, saya kopi beritanya:

Minggu, 06 Maret 2016 11:51
Tabanan, Semetonnews – Siswa-siswi di SDN 1 Pitra, Desa Pitra, Penebel, Tabanan nampak sumringah ketika kedatangan tamu dari Bali Edukasi. Bagaimana tidak, bersama 19 orang relawan dari Bali Edukasi, mereka diajak belajar Bahasa Inggris, Bahasa Bali dan memahami kesehatan dengan cara yang mengasyikkan.

Kunjungan relawan Bali Edukasi tersebut merupakan program PELANGI (Pelita Harapan Negeri ) yang menyasar sekolah-sekolah di pelosok dengan berbagai keterbatasan, seperti keterbatasan fasilitas, ataupun tenaga pengajar.

“Dan kali ini kami datang ke SDN 1 Pitra yang memang memiliki keterbatasan dalam tenaga pengajar,” ungkap Sekretaris Bali Edukasi Putu Ana Agustini kepada Semetonnews, Minggu (6/4/2016). Selain diajak belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Bali dengan media belajar yang inovatif serta kreatif, pada siswa SDN 1 Pitra mulai dari kelas I hingga kelas VI juga diberikan pemahaman mengenai kesehatan jajanan dan cara menggosok gigi yang benar.

“Kami mengajarkan Bahasa Inggris dan Bahasa Bali karena memang di SDN 1 Pitra tidak ada guru mata pelajaran Bahasa Inggris, sedangkan Bahasa Bali adalah keutamaan sebagai masyarakat Bali,” imbuhnya.

Kepada Semetonnews, Ana menuturkan kegiatan tersebut juga diisi dengan games seru yang sudah dirancang oleh para relawan Bali Edukasi dengan berbagai latar belakang, mulai dari siswa SMA, Guru, mahasiswa, PNS, dan lainnya. Dalam kegiatannya kali Bali Edukasi juga menggandeng kawan-kawan dari YSEALI (Youth South East Asian Leaders Initiative) dan Balai Mangrove.

Rama, salah satu siswa kelas IV mengaku sangat senang atas kedatangan tim Bali Edukasi, karena selain berbagi ilmu, relawan Bali Edukasi juga membagikan susu gratis serta alat tulis gratis kepada para siswa. “Senang sekali, diajarkan Bahasa Inggris, diajak main games, terus dikasi hadiah alat tulis,” ujarnya lugu.

Bali Edukasi sendiri merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari sekelompok anak muda yang memiliki tujuan sama yakni untuk menyalakan peradaban.Untuk misi selanjutnya Bali Edukasi berencana akan melakukan kegiatan yang sama di SDN 2 Bengkala dan SDN 2 Keramas.

Penulis : Trisna Ayu
Editor Robinson Gamar


Liputan Gemaseni di SDN 2 Bengkala
Mengajari Bahasa Inggris Siswa “Kolok” di SDN 2 Bengkala, Buleleng

Untuk arsip, saya kopi beritanya:

di-lingkungan-sd-no-2-bengkala

Buleleng, Dewata News.com — Bali Edukasi kembali melaksanakan program edukasi dengan mengusung tema GEMASENI (Gemar Membaca Sejak Dini) pada anak-anak di SDN 2 Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali.

Sebelumnya, program serupa juga dilaksanakan di Desa Selemadeg, Tabanan, Bali yang berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Undiksha di desa tersebut dan di SDN 1 Naga Sepaha, Buleleng.

Story telling for fun atau bercerita dalam Bahasa Inggris yang menyenangkan adalah nama program ini. Para siswa SD diajak belajar, mendengarkan cerita, mengerti lalu mengucapkan Bahasa Inggris dengan baik dan benar sambil bermain.

Metode seperti ini membuat siswa tanpa sadar belajar Bahasa Inggris. Gerakan ini dicetuskan oleh Ketua Bali Edukasi, Made Hery Santosa PhD untuk mengadaptasi pembelajaran menyenangkan dari Benua Australia, tempat ia menuntut ilmu sebelumnya.

Kegiatan ini diikuti oleh para siswa SD dari kelas empat, lima dan enam. Terdapat juga beberapa siswa tuli bisu (kolok) di dalamnya sehingga program ini semakin menarik sekaligus menantang tim Bali Edukasi.

Hal unik lainnya adalah baik para siswa normal dan penyandang tuli bisu mendapat perlakuan sama. Hal tersebut bisa dilihat dari keseluruhan siswa normal yang sangat lancar berkomunikasi dalam bahasa isyarat.

“Saya diajari berkomunikasi dengan teman kami tersebut (penyandang tuli bisu), makanya saya hafal isyarat,” ungkap salah seorang siswa di sela-sela kegiatan.

Siswa di SDN 2 Bengkala sangat antusias terhadap kegiatan ini. Bahkan pengetahuan dan ketertarikan mereka akan Bahasa Inggris sangat tinggi. Ini dilihat dari kemampuan mereka dalam mencerna Bahasa Inggris sangat cepat.

“Anak-anak di sini sering dikunjungi donatur atau peneliti asing, mungkin karena itu daya tangkap mereka cukup cepat terhadap Bahasa Inggris,” ungkap Ketut Kanta SE, penerjemah dan guru penuh dedikasi di sekolah ini.

Baru-baru ini, profilnya tayang di Metro TV dalam acara Eagle Awards berjudul “Profesor Kolok”. Kegiatan ini juga disambut baik oleh Kepala SDN 2 Bengkala, NyomanWijana AMd, mengingat desa tersebut ditunjuk sebagai Desa Sadar Wisata.

“Kami sangat senang ada pihak yang datang bersumbangsih secara sosial untuk mengajari anak-anak kami Bahasa Inggris, mengingat desa kami sedang dalam pembangunan Desa Wisata,” ungkapnya.

Hal yang sama disampaikan Kepala Desa Bengkala, I Made Arpana yang menyempatkan hadir. “Semoga membantu anak-anak, terutama yang tuli bisu karena mereka sering merasa termarjinalkan oleh dunia luar,” ujarnya.

Para siswa dan pejabat desa berharap kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan berkelanjutan. Bahkan di akhir kegiatan, beberapa siswa berkata seraya mencium hormat tangan kami, sambil meminta tim Bali Edukasi untuk datang kembali esok hari mengajari mereka Bahasa Inggris yang menyenangkan tersebut. (DN ~ TiR).—

Kiriman: I Gusti Putu Hendranatha Wijaya AMd
Anggota Bali Edukasi

Copyright © 2016. Terimakasih Telah Menjadi Bagian Penyebaran Informasi . Seluruh Isi Kontent Merupakan Hak Cipta DEWATA NEWS dan Media Partner : http://www.dewatanews.com/2015/09/mengajari-bahasa-inggris-siswa-kolok-di.html#ixzz4OIfvPTaM


Ayo Sumbangkan Buku Cerita untuk Bantu Siswa SD Gemar Baca

stand-pengumpulan-buku-bali-edukasi_20160310_205718

Link: http://bali.tribunnews.com/2016/03/10/ayo-sumbangkan-buku-cerita-untuk-bantu-siswa-sd-gemar-baca

Untuk arsip, saya kopi beritanya:

TRIBUN-BALI.com, DENPASAR – Pagi hari saat matahari malu menampakkan dirinya, panitia dari Bali Edukasi Fundraising & Expo berkumpul di area Car Free Day, Lapangan, Renon, Denpasar, Bali, pukul 05.00 Wita.

Mereka melakukan persiapan pembukaan stand penerimaan sumbangan buku untuk sekolah dasar dan menjual makanan sehat.

Koordinator Humas Bali Edukasi Fundraising & Expo, I Gede Heprin Prayasta mengatakan, kegiatan ini bertujuan menunjang acara Gemar Membaca Sejak Dini (Gemaseni) khususnya pada My Trip My Library.

“Jadi tiap bulan itu kami mengunjungi dua sekolah binaan SD Negeri 2 Bengkala dan SD Negeri 2 Keramas melalui program Gemaseni,” ujarnya kepada Tribun Bali, Kamis (10/3/2016).

Tiap kegiatan Gemaseni itu ada sesi membaca cerita, untuk kelas 1 SD masih diberikan story telling.

“Buku hasil sumbangan itu kami sumbangkan ke sekolah binaan. Sekarang satu buku masih dibaca empat siswa. Harapannya minimal satu siswa bisa pegang dan baca lebih dari satu buku,” katanya.

Ia juga menjelaskan, buku yang diperlukan itu buku cerita yang bergambar.

“Jadi kami ingin mengajak anak-anak usia dini untuk belajar untuk gemar membaca, tapi yang tak bikin mereka stres. Kami ingin mengajak gemar membaca mulai dari cerita anak,” jelas Heprin.

Heprin melanjutkan, kegiatan Bali Edukasi Fair and Expo itu selain menerima sumbangan buku, juga berjualan makanan sehat, serta mempromosikan acara Bali Edukasi.

“Kami juga ada jualan makanan sehat dari tim medis Bali Edukasi. Makanan yang dijual seperti susu, salad buah, kue keju sehat. Pokoknya yang baik untuk kesehatan, he he,” ulas alumni Sekolah Tinggi Ilmu Statistik itu.

Kurang lebih sebanyak seratus buku yang terkumpul itu rencana disumbangkan ke sekolah binaan Sabtu (12/3) lusa.

“Kami hanya ingin meningkatkan minat baca anak-anak. Ketika budaya membaca sudah dimulai sejak dini, maka mereka akan mudah menerima pelajaran karena buku adalah jendela dunia,” kata Heprin. (*)


Liputan Orasi Ilmiah di Nusa Penida Pos
E-Learning, Peluang di Tengah Tantangan Persaingan Global

eed-post-orasi

Untuk arsip, saya kopi beritanya disini:

SINGARAJA, NUSA PENIDA POST

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja (Undiksha) kini terus menggeliat menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di tanah air. Sejak dirintis tahun 1955 lalu, Undiksha mengalami transformasi sejarah cukup panjang hingga perubahan status dari IKIP menjadi Universitas Pendidikan Ganesha (2006). Keberadaannya pun menjadikan Singaraja sebagai kota pendidikan namun tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Pesatnya perkembangan pengetahuan dan teknologi informasi seolah memaksa penyelenggaranya untuk berpacu lebih cepat. Penemuan teknologi baru yang dulunya sebatas mimpi, saat ini sudah bisa kita nikmati melalui lompatan yang tak biasa. Lalu, bagaimana Undiksha memandang hal tersebut sebagai perguruan tinggi pencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing?

E-learning (red; pembelajaran elektronik) menjadi salah satu terobosan dalam dunia pendidikan di tengah ketat persaingan global. Konsep pembelajaran inilah yang sedang coba diinisiasi melalui orasi ilmiah serangkaian Dies Natalis ke-XXII Undiksha yang dibawakan oleh Made Hery Santosa, S.Pd.,M.Pd.,Ph.d. Dalam paparannya, pembangunan kapasitas tidak saja meliputi penyiapan lulusan dengan cara memperoleh informasi, namun juga cara mereka merefleksi informasi di berbagai konteks baru. Perguruan tinggi secara terus menerus harus melakukan penyesuaian terhadap perubahan global. Pemanfaatan teknologi, termasuk e-learning untuk membantu siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi telah dimulai dengan integrasi ICT.

“Sungguh merupakan kehormatan dan penghargaan yang teramat tinggi dalam perjalanan karier akademis saya, karena pada saat Undiksha merayakan Dies Natalis ke-22 ini, saya berdiri di depan para hadirin untuk menyampaikan orasi ilmiah yang saya beri judul ‘E-Learning dan Undiksha: Peluang untuk Berdaya Saing Tinggi dan Berwawasan ‘Glocal’ dalam Pendidikan Abad 21,” ungkapnya pada sidang terbuka Senat, Jumat (16/1) lalu.

Sidang dihadiri langsung oleh pihak rektor dan jajaran, anggota Senat Undiksha, pejabat struktural, dosen serta pegawai berlangsung lancar. Hadir pula Pengurus Dharma Wanita Undiksha, Fungsionaris Lembaga Mahasiswa, Panitia Dies Natalis, undangan dan mahasiswa. Sidang berlangsung di Auditorium Kampus Tengah, Jalan Udayana, Singaraja..

Lulusan doktoral dari La Trobe University (2013) ini juga menambahkan, pendidikan tinggi kini dihadapkan pada pusaran kompetisi global yang menginginkan lulusannya siap mengisi kepentingan pasar, termasuk pasar global. Sebagai gambaran sederhana, lulusan universitas luar negeri jauh lebih siap untuk mengambil berbagai kesempatan kerja di Indonesia. Ketidaksiapan ini bisa menjadi bumerang yang otomatis menempatkan lulusan Indonesia di level bawah.

Namun, Bali secara tidak langsung memiliki keunggulan, masyarakatnya lebih dekat dengan perspektif dan konteks global. Pemahaman akan kearifan lokal yang sudah dimiliki ditambah perspektif global, sinergi ‘glocal’ ini akan membantu sumber dayanya berdaya saing lebih tinggi. Meski di satu sisi, sosial budaya, seperti rasa hormat, hirarki, pandangan akan pengalaman dan intuisi mampu membentuk karakter atau paling tidak mempengaruhi cara pandang seseorang. Namun jika dilakukan secara berlebihan, terutama di konteks pendidikan kekinian yang mengedepankan pemikiran kritis dan aktif, perspektif tersebut sangat mungkin mempengaruhi kualitas belajar individu.

Bagaimana menyiasati pandangan-pandangan yang sepertinya bertolak belakang tersebut? Jawabannya adalah teknologi. Dalam pendidikan abad 21, teknologi yang dimaksud yang bisa membantu peningkatan daya saing dan pemahaman global namun tetap mengakomodasi perspektif lokal adalah pemanfaatan secara efektife-learning. E-Learning bisa mengakomodasi pembelajaran terus menerus tanpa batas ruang dan waktu,” imbuh Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini.

Pihaknya pun tidak menampik akan muncul pandangan berbeda, salah satunya kekhawatiran mahasiswa masuk pada konten terlarang, namun sebisanya hal tersebut disaring dengan sistem yang ada. Inisiatif dirasa efektif untuk membantu belajar interaktif dengan memanfaatkan teknologi. Mahasiswa bisa belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan beragam sumber informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik.

“Pembelajaran dengan pemanfaatan e-learning sebagai penerapan teknologi mutakhir akan memberi lulusan Undiksha kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja dalam tim, membuat keputusan dan merefleksi diri.Mereka akan siap berkompetisi di level tertinggi, di segala bidang,” tegasnya lagi.

Berdasarkan wawancara dan informasi dari pihak Puskom, LP3, tim elearning dan pelaku e-learning di Undiksha, diketahui bahwa lembaga ini sudah siap melaksanakan. Fasilitas dan infrastruktur mencakup server, bandwith, dan platform sudah tersedia dan siap. Satu server khusus saat ini dinilai siap dan jika diperlukan bisa ditambah menjadi 2 server.

Ayah dari Putu Rachela Avenia Santosa ini  kembali menegaskan hal mendasar saat ini adalah sustainibilitas atau usaha mensosialisasikan, mengisi konten, melaksanakan, evaluasi dan refleksi yang terus menerus. Berkaca dari otonomi yang dimiliki oleh Undiksha sebagai sebuah universitas, peluang untuk menegosiasikan berbagai tantangan menjadi kesempatan sangat terbuka lebar. Kebijakan strategis yang memfasilitasi kepentingan universitas harus lebih bisa dikembangkan. Besarnya jumlah mahasiswa menjadi dorongan dan memberi potensi besar akan terwujudnya pemanfaatan e-learning.

Tidak mudah memang menciptakan tatanan baru, berbagai tantangan bermunculan. Berbagai isu perlu mendapat perhatian serius seperti konektivitas, infrastruktur, fasilitas penunjang, maupun manajemen masih kerap muncul. Peluang besar menanti mengingat hanya sedikit perguruan tinggi di Bali yang benar-benar memanfaatkan e-learning dan teknologi mutakhir secara masif, berdampak dan terintegrasi.

“Sinergi harmonis ‘glocal’ ini harus terus dijaga agar kita semua bisa berdaya saing tinggi. Undiksha sudah memiliki keunggulan status PT Negeri yang akan lebih dilirik oleh calon mahasiswa. Namun, jika keunggulan ini ditambah dengan fitur unggulan baru dan menarik seperti e-learning, niscaya Undiksha akan melejit lebih jauh lagi tidak saja dari segi kuantitas, namun juga kualitas,” tutupnya diakhir orasi.

Penulis: I Wayan Sumerta W. A & I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi

Link: http://www.nusapenidamedia.com/e-learning-peluang-di-tengah-tantangan-persaingan-global/


Liputan Orasi Ilmiah di Pos Bali

orasi-ilmiah-made-hery-santosa-phd-pos-bali


Liputan Orasi Ilmiah di English Education Department Undiksha
Made Hery Santosa, Ph.D.: “E-Learning, an Important Milestone for Developing Undiksha’s Center of Excellence to prepare 21st Century Graduates”

eed-post-orasi

Untuk arsip, saya kopi beritanya dibawah ini:

SINGARAJA. Ganesha University of Education (Undiksha) has just celebrated its 22nd Anniversary. A series of agendas have been conducted, and one of them is Dies Natalis, held on January 16th, 2015 in the campus’ auditorium. In the event, all university senate members, faculty and study program or department representatives, student organizations’ representatives and invited guests or stakeholders from the provincial and Buleleng local governments gathered to attend the university’s annual Rector’s report on what Undiksha has achieved so far, which at the same time represents Undiksha’s commitment to its being a public institution (public accountability).

One of the traditions in every Dies Natalis is the Dies Natalis speech (called Academic Oration) delivered by a lecturer. This is usually from one selected lecturer who has just accomplished his/her doctorate program, and who is agreed upon by a panel of committees and the institutional leaders of the university. To English Education Department’s pride, for this year’s speech, Made Hery Santosa, Ph.D. – now, the department head – was assigned, following his predecessor, Dr. I Gede Budasi, M.Ed., who also had the honor to have the same assignment in the 2008’s Dies Natalis. In his speech, presented in a communicative way, Pak Hery, so he is usually called, addressed the issue of e-learning. He shared insights drawn from theories and experiences of universities in USA, Europe, and Asia, including that in Indonesia in implementing e-learning.

There are at least two major issues that are interesting to be put forward from the speech concerning e-learning. First is the power of e-learning in developing graduates’ 21st century skills (soft skills; generic skills; graduate attributes) – such as autonomy, critical thinking, team work, decision making, leadership – in order to be able to compete and catch up with human resources from other countries who he said as “having run speedily” (that is, to say that in some way we have been left behind). Included here is how e-learning can cope with some culturally inherited “Indonesian and Balinese”, Eastern socio-cultural values (passive, reticent, reluctant, hierarchy) that can potentially provide challenges for the development of the important 21st century skills on the part of our students. He said e-learning can help to create graduates who have both local wisdom and global (‘glocal’) perspectives, i.e. those who have good global insights while at the same time still having robust awareness of their own local and cultural identity. This kind of awareness is deemed to be very important in the middle of global competition, such as the in-coming ASEAN Economy Community.

The second important thing that he addressed is his own idea that e-learning can provide an alternative basis for Undiksha as the only state university of education in Bali to start off its centre of excellence development. Like Undiksha, there are many other universities in Indonesia and Bali – not to mention a lot more worldwide – which also provide teacher training and education program. In this tight global competition with other universities, Pak Hery believes that by building better e-learning capacity and making this as its distinct strength or feature, Undiksha can compete with the other universities and will be able to survive. Can Undiksha do it? As it is now becoming a bigger university, Pak Hery – as what he always says in front of his students – firmly believes: “Yes, Undiksha can.” Amen.

Link: http://eed.undiksha.ac.id/?p=606


Liputan Orasi Ilmiah di Dewata News

made-hery-santosa-saat-sampaikan-orasi

Liputan Orasi Ilmiah di Dies Natalis ke 22 Universitas Pendidikan Ganesha

Untuk arsip, saya kopi beritanya disini:

Buleleng, Dewata News.com – “E-Learning dan Undiksha: Peluang untuk berdaya saing tinggi dan wawasan ‘Glocal’ dalam pendidikan abad 21”,diangkat sebagai judul Orasi oleh Made Hery Santosa dalam rangka Dies Natalis ke-22 Undiksha yang disampaikan pada siding terbuka Senat Undiksha, Jumat (16/01).

Kenapa Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha ini mengangkat judul Orasi seperti itu? Menurut openyandang gelar doctor di La Trobe University, Australia (2013) ini, tiada lain berdasarkan refleksi dan penilaian dirinya terhadap perkembangan kajian pendidikan yang memanfaatkan teknologi, termasuk e-learning, dalam pembelajaran, bak dari pengalaman Negara-negara maju di benua Eropa, Amerika, Australia dan beberapa Negara Asia dan pengamatan detil di konteks Indonesia, khususnya daerah Bali.

”Dinamika arah ekonomi glbal dan pesatnya perkembangan teknologi saat ini telah merubah wawasan dan kebijakan banyak institusi di dunia,” ungkap Made Hery Santosa kelahiran Singaraja 23 Oktober 1979 ini.

Orasi yang disampaikan Made Hery Santosa dihadapan Senat Undiksha yang dibuka Ketua Senat Prof. Nyoman Sudiana itu dihadiri seluruh anggota senat, para pejabat struktural, parta dosen serta pegawai serta fungsionaris lembaha mahasiswa Undiksha Singaraja.

Ia mengungkapkan, Undiksha adalah perguruan tinggi negeri yang besar, namun sejauh mana nama Undiksha dikenal oleh konteks nasional atau internasional? ”Tugas kita sebagai komponen Undiksha membuat nama lembaga ini harum. Salah satu caranya, adalah dengan menjadi centre of excellence. Penerapan e-learning, khususnya di semua jenjang pendidikan di Undiksha secara integrative dan terpusat bisa menjadi langkah awal untuk mencapai mimpi menjadi centre excellence tersebut. Dan untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan, kita semua harus berani melangkahkan kaki,”: tegas suami Kadek Manik Permata ini.

Anggota Luar Biasa Pecinta Alam Mandala Bakti Tama ini juga mengatakan, penerapan e-learning ini juga bisa menjadi daya tarik bagi mahasiswa baru. Dengan kompetisi yang cendrung tinggi saat ini, ia yakin Undiksha yang sudah memiliki keunggulan status PT Negeri akan lebih dilirik oleh calon mahasiswa.

Namun, jika keunggulan ini ditambah dengan fitur unggulan baru dan menarik, seperti e-learning, Made Hery Santorsa optimis, Undiksha akan melejit lebih jauh lagi, tidak saja dari segi kuantitas, namun juga kualitas. (DN~TiR).—

Copyright © 2016. Terimakasih Telah Menjadi Bagian Penyebaran Informasi . Seluruh Isi Kontent Merupakan Hak Cipta DEWATA NEWS dan Media Partner : http://www.dewatanews.com/2015/01/orasi-made-hery-pada-dies-natalis-e.html#ixzz4NcPUbikD


orasi-ilmiah-hery-prezi

Presentasi saya bisa dilihat disini.







Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s